Saturday, May 2, 2015

Hari Pendidikan milik semua orang

Setiap manusia akan mengalami tahapan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Tahapan ini adalah kompleks, yaitu meliputi perkembangan fisik dan psikomotorik. Aspek ini akan berkembang menjadi kualitas manusia yang muncul dari hasil sosio emosional dengan ekositem di bumi tempat mereka semua belajar. Belajar mengerti apa kegunaan hidup di dunia dengan segala hal yang berbau kenikmatan. Proses manusia akan terus berlanjut selama setiap manusia baru lahir.
Bagaimana manusia baru akan lahir menjadi sebuah permata dari peradaban dunia. Semua akan tergantung bagaimana kualitas yang melahirkannya. Induknya adalah seorang ibu. Ibu adalah gambaran manusia yang terlahir menjadi fitroh manusia baru. Kualitas dari manusia baru yang dilahirkan adalah berawal darinya. Bagaimana faktor emosional seorang wanita akan melahirkan manusia. Di mulai dari bagaimana membuat manusia baru yang akan menyatukan air menjadi segumpal daging. Lewat warna dan aura yang bagaimana bertemunya sebuah kenikmatan dan cinta. 
Sehingga jadilah ornamen calon manusia baru dalam rahim. Mulailah setiap detik dan menit aura dan nadi wanita calaon ibu akan mengalirkan darah ke rahim. Darah ini akan berpijak dari setiap aura hati yang dipancarkan setiap waktu. Pembelajaran ini yang akan membuat wajah manusa baru tahap demi tahap. Asupan makanan yang di filter dengan bijak akan menyebabkan alunan fisik dan hati janin menjadi sempurna, tentunya bagaimana pola dan arahan makanan yang masuk sesuai dengan kiblatnya yaitu bebas dari fitnah dan haramnya makanan tersebut. Kemudian bagaimana pola stabilitas hati seorang ibu setiap harinya, apakah selalu tawadhu' ke suaminya dan selalu berbicara dengan lemah lembut atau sebaliknya. Kemudian apakah seorang ibu juga selalu menebarkan empati dan kedamaian dalam sosio komunikasi dengan masyarakat atau sebaliknya. Bagaimana juga seorang ibu pada kehamilannya selalu mengasah pikiran dan refleksi diri prihatin dan menjaga aura dzikrullah atau sebaliknya berhura-hura dalam keramaian menjelang kelahiran.
Semua adalah bentuk bagaimana manusia yang akan lahir siap nantinya setelah lahir dalam naungan pendidikan dalam tahap demi tahap. Selanjutnya adalah bagaimana manusia baru masuk dalam dunia pendidikan. Semua akan tergantung bagaimana orangtua mempertemukan dia dengan Tuhannya. Apakah si orang tua akan mendidik anaknya dengan berbagai perbedaan ormas Islam atau dia akan memperlihatkan kalau Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin. Semua akan kembali kepada ego orang tua yang akan menjadikan pendidikan karakter anaknya memenuhi tahapan yang benar. Dalam dunia pendidikan formal juga akan menjadikan si anak tumbuh dan berkembang. Semua juga akan tergantung bagaimana sekolah membentuknya. Apakah sekolah akan membentuk manusia yang sholeh atau justru sebaliknya si anak menjadi mundur setelah keluar dari sekolah sementara saat sekolah berprestasi. Ini adalah warna dari pendidikan yang perlu kita renungkan. Bukan bagaimana sekolah harus lulus 100% tetapi melegalkan segara cara untuk itu semua. Bukan bagaimana sekolah membangun gedung bertingkat untuk kemajuan sekolah sementara rapuh dalam pola asuh yang harmonis. Bukan bagaimana orang tua acuh dan acuh terhadap kondisi anak di sekolah, komunikasi dengan si anak kurang asik hanya membayar saja saat datang ke sekolah selebihnya tergantung guru. Dan masih banyak lagi polemik antara pelajar, guru dan orang tua serta tak kalah pentingnya kebijakan pemangku sekolah. Semuanya adalah warna dari pendidikan itu sendiri. Semua akan kembali bagaimana kita menempatkan setiap deskripsi kita selaku guru dan orangtua. Itu seni dalam pola asuh anak dalam tahapan siswa. Bagaimana dengan mahasiswa? Semua akan kembali bagaimana kualitas pemikiran setelah lepas dari bangku siswa. Apakah menjadi manusia yang berkualitas egois atau sebaliknya mengatur hidupnya dalam belajar, organisasi atau demonstrasi. Semua juga akan kembali kepada bagaimana saat bunda mengandung.
Dari uraian tersebut, bagaimana menjadikan manusia baru khususnya lewat pendidikan adalah upaya yang tidak semudah membalikan telapak tangan. Semua akan berpulang bagaimana pola pelatihan dan pendidikan yang diupayakan orangtua ataupun guru. Dan pada hakekatnya bahwa anak adalah warna yang indah namun ibarat baja, getas dalam pola asuh. Semoga akan sabar dalam mengolahya. Sekali lagi pendidikan bukan hanya bermain game dan browsing di dunia maya. Pendidikan adalah pola untuk mewujudkan manusia baru. Dan tolak ukurnya adalah mentalitas yang tangguh dalam segala bentuk cuaca buruk dan badai. Hakekatnya pendidikan lahir bagaimana manusia mau belajar dari segala bentuk pembelajaran lewat guru dan pengalaman hidup.
Semoga hari pendidikan bukan dijadikan untuk mengencangkan ikat pinggang tetapi dijadikan untuk melonggarkan ikat pinggang supaya peredaran darah kita mengalir dengan sadar.
Wallahu'alam Bishowwab.
Selamat Hardiknas
Pendidikan adalah untuk melahirkan manusia baru bukan menjadikan generasi baru untuk meneruskan warna sama dari generasi sebelumnya.
penulis,
chie

Thursday, April 23, 2015

Tidak semua amal ibadah berbuah pahala dan surga

Semenjak kita terlahir dari perut ibu, banyak perubahan hingga beranjak dewasa. Perkembangan fisik dan psikis kita terlahir lewat asuhan orang tua, lingkungan dan sekolah. Sehingga banyak sekali faktor yang telah membesarkan kita dan justru berangkat dari lingkungan dan kebiasaan yang melahirkan karakter egois pada psikologi kita. Dan lebih ironisnya bagamana karakter kita terbentuk justru tidak bisa memahami ilmu baru yang setiap saat masuk dalam benak. Kita terlanjur jatuh dalam analisis pola fikir yang pragmatis, selalu menangani hal dalam dilema pola fikir berangkat dari setiap hal baik yang sudah kita lewati. Sementara setiap pemasukan ilmu yang kita peroleh tidak bisa harus dilakukan dalam filter kesuksesan yang telah diraih.

Manusia adalah makhluk yang fana. Dalam setiap tetes darah akan mengandung unsur sangat rentan dengan perilaku yang cenderung terpengaruh hati dan pola fikir jauh dari empati. Kefanaan ini akan menghasilkan nuansa yang berbeda dalam kurun waktu yang pendek. Hingga setiap ucapan kita akan berubah dalam hitungan menit bahkan detik, nilai kejujuran akan terjual dengan semakin lamanya kita hidup dan bertambah usia. Kesuksesan akan tercapai tetapi akan melahirkan amal usaha, amal ibadah yang tidak berbuah pahala dan surga. Kenapa demikian...
Jawabnya adalah setiap yang dilakukan setelah kita berusia matang, jelas akan menurunkan ornamen dari kejujuran dan amal baik. Amal baik akan menurun sesuai dengan kematangan dan kesuksesan. Karena inilah dunia yang fana, seberapa besar apapun lidah dan bibir mengucapkan kalimat pujian kepada Allah SWT. Lidah dan bibir bahkan hati akan selalu jatuh terpeleset karena faktor kefitrahan selaku manusia. Jadi bohong apabila manusia menganggap dirinya lebih mulia dari orang yang lebih di bawahnya. Hanya Allah SWT maha tahu segala bentuk kepura-puraan manusia.
Tidak semua amal ibadah berbuah pahala dan surga. Setiap iktikad baik jelas banyak hambatannya berbeda dengan setiap usaha buruk banyak temannya alias selalu didominasi setan dan sekutunya. Setiap hal yang kita upayakan akan berbenturan, baik itu tidak disengaja bahkan justru di sengaja, Tidak disadari apa yang kita lakukan menyinggung perasaan orang lain bahkan menyakitinya sehingga lupa kalau kegagalan kita berangkat dari itu semua. Memberikan keputusan sepihak tanpa musyawarah atau justru bermusyawarah malah justru ajang menjatuhkan satu sama lain hingga upaya yang kita lakukan justru menjadi kuburan dari usaha yang kita bangun. Dan masih banyak segelintir upaya dan usaha serta amal ibadah kita yang losses tidak berbuah pahala dan amal sholeh apalagi berharap surga. Dan kesadaran ini tidak disadari khususnya oleh orang yang berilmu tinggi dan orang-orang sukses.
Kerapkali kesadaran akan tercapai manakala kita melakukan pola pemikiran yang sedikit jauh dari ambisi dan keegoisan. Setiap kali menghadap_Nya dalam sholat pasti akan tersadar akan kelemahan diri yang selalu menjadi sandungan langkah, namun setelah selesai salam dalam sholat, qolb kita akan tertutup hiruk pikuk kesibukan dan bisingnya kendaraan di jalan yang kita lalui. Semoga Allah SWT selalu memberikan jalan yang lurus. Aamiin.
Wallahu'alam Bishowwab.
penulis,
Chie

 
back to top