Sunday, December 27, 2015

Kaleidoskop Akhir Tahun

Ada awal pasti akan selalu ada akhir, itu yang selalu ada pada bentuk dan semua hal yang ada di dunia. Tak terkecuali sebuah cinta, cinta akan leleh manakala ada halangan yang tidak bisa kita terjemahkan dan berujung solusi dari kebaikan, sehingga tak lepas dari ujung dan pangkal. Kecuali cinta kita kepada Nabi dan Allah SWT yang seharusnya tidak ada ujung dan pangkal dalam memberikannya. Bisakah itu terjadi pada manusia biasa? Jawabnya adalah tergantung keimanan kita akan kehendak Allah SWT. Setiap manusia yang berkendak pasti tidak akan semulus yang terjadi, istilahnya setiap keinginan manusia sering mengalami perbedaan kenyataan yang terjadi setelahnya. Dan hal tersebut jelas akan menjadikan perubahan pada perilaku dan karakter kita. Karakter yang selalu tumbuh dan berkembang sehingga akan melunturkan sebuah cinta.

Setiap manusia mempunyai harapan dari warna perubahan dalam perkembangan usia dan jatidirinya. Biasanya akan merekatandai dengan kebaikan dan perubahan bentuk dari tahun ke tahun. Umumnya manusia menandai kematangan dan keberhasilan dalam kurun waktu tahun. Bagaimana perubahan yang terjadi selama setahun tentang harapan yang diinginkan. Awal dan akhir ini yang menjadikan bentuk kemajuan dan keberhasilan dalam perjalanan hidupnya. Keberhasilan manakah yang menjadi tolak ukur manusia dalam setahun pada kalaidoskopnya.
Manusia akan merasa sengsara manakala banyak keraguan dan kebencian yang menaungi hidupnya bahkan ditambah ketidaksuksesan hidup yaitu belum cepat dalam keberhasilan, belum cepat dalam kakayaan, belum cepat dalam semua hal yang menjadikan keinginan tercapai. Baik itu dengan keluarga, pasangan hidupnya, teman, saudara dan lngkungannya. Namun pernahkah berfikir pada perubahan yang mendasar pada dirinya yaitu perilaku yang terus membaik dalam rentang waktu bertambah usia dalam setahun. Justru banyak hal yang melunturkan ini karena faktor yang membentuk keraguan dan kebencian yang merubah segalanya.
Pernahkah setiap manusia yang beriman berfikir kalau Tuhanmu tidak pernah memberikan kejelekan kepada hidup kita. Pasti jawabnya adalah tidak, padahal kita selalu mengingkarinya karena ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan hidup kita. Yang ada adalah akan menyalahkan Tuhanmu pada akhirnya yang berawal menyalahkan hidup kita bahkan pasangan hidup kita yang selalu menemani setiap langka kita. Pernahkan sekali saja berfikir ketidakberuntungan hidup kita berawal dari sebab lain, sebab yang menyebabkan hati kita tertutup untuk memberikan kebaikan pada orang lain yang justru selalu mencari kebaikan diri kita melupakan kebaikan orang lain. Tanpa disadari selalu menelanjangi diri kita sendiri dari orang lain oleh ucapan, perangai dan karakter kita hingga jiwa kita terbakar dan membentuk awan hitam menutupi amal kita sehingga menutupi keberhasilan hidup kita, dan banyak hal yang kita melupakannya.
Setiap akhir tahun biasanya menjadi tolak ukur segalanya tetapi apa itu mutlak, sepantasnya apakah kebaikan dan kesuksesan kita di akhir tahun. Sementara tidak pernah memikirkan bagaimana tolak ukur keberhasilan manakah yang menjadi jiwa kita tenang tidak lepas dari koridor cinta. Ataukah keberhasilan dan kesuksesan kita justru akan melunturkan cinta kita kepada pasangan hidup kita, orang tua kita, teman, sahabat dan orang yang selalu menemami dalam suka duka hidup kita selama ini. Renungan inilah yang akan membawa warna kesuksesan baru dalam awal dan akhir tahun ke depan.
Hal yang membahagiakan adalah bagaimana Tuhanmu memberikan kebaikan dalam bentuk kesehatan, kematangan jiwa, kemajuan kesalehan, perkembangan berfikir, perkembangan empati, perkembangan moral dan kearifan agar mampu kebaikan ini di bawa sampai akhir hayat. Namun justru kebaikan tentang kemajuan kekayaan dan kesuksesan yang menjadi tolak ukur manusia berhasil hidup di dunia. Kewajaran ini adalah mutlak karena inilah sebenarnya harapan manusia walaupun sampai setinggi mana keilmuan yang dimiliki. Semua akan berujung pangkal kepada kesuksesan harta dan kemewahan sementara faktor lunturnya cinta adalah akhir dalam analisa akhir tahun kita. Sehingga cinta akan bermakna awal dan akhir pada diri manusia. Semoga hal itu adalah isapan jempol saja dan kita akan selalu menjadi manusia bersyukur, bersyukur menemukan pasangan hidup kita dan selalu mencintai dan menemani sampai akhir hayat. Sehingga ibadah kita menjadi bermakna untuk menemukan jaman keabadian yaitu akherat kelak.
Wallahu’alam Bishowwab.

Penulis,
Chie, Muhshonu Rohman.

Saturday, May 2, 2015

Hari Pendidikan milik semua orang

Setiap manusia akan mengalami tahapan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Tahapan ini adalah kompleks, yaitu meliputi perkembangan fisik dan psikomotorik. Aspek ini akan berkembang menjadi kualitas manusia yang muncul dari hasil sosio emosional dengan ekositem di bumi tempat mereka semua belajar. Belajar mengerti apa kegunaan hidup di dunia dengan segala hal yang berbau kenikmatan. Proses manusia akan terus berlanjut selama setiap manusia baru lahir.
Bagaimana manusia baru akan lahir menjadi sebuah permata dari peradaban dunia. Semua akan tergantung bagaimana kualitas yang melahirkannya. Induknya adalah seorang ibu. Ibu adalah gambaran manusia yang terlahir menjadi fitroh manusia baru. Kualitas dari manusia baru yang dilahirkan adalah berawal darinya. Bagaimana faktor emosional seorang wanita akan melahirkan manusia. Di mulai dari bagaimana membuat manusia baru yang akan menyatukan air menjadi segumpal daging. Lewat warna dan aura yang bagaimana bertemunya sebuah kenikmatan dan cinta. 
Sehingga jadilah ornamen calon manusia baru dalam rahim. Mulailah setiap detik dan menit aura dan nadi wanita calaon ibu akan mengalirkan darah ke rahim. Darah ini akan berpijak dari setiap aura hati yang dipancarkan setiap waktu. Pembelajaran ini yang akan membuat wajah manusa baru tahap demi tahap. Asupan makanan yang di filter dengan bijak akan menyebabkan alunan fisik dan hati janin menjadi sempurna, tentunya bagaimana pola dan arahan makanan yang masuk sesuai dengan kiblatnya yaitu bebas dari fitnah dan haramnya makanan tersebut. Kemudian bagaimana pola stabilitas hati seorang ibu setiap harinya, apakah selalu tawadhu' ke suaminya dan selalu berbicara dengan lemah lembut atau sebaliknya. Kemudian apakah seorang ibu juga selalu menebarkan empati dan kedamaian dalam sosio komunikasi dengan masyarakat atau sebaliknya. Bagaimana juga seorang ibu pada kehamilannya selalu mengasah pikiran dan refleksi diri prihatin dan menjaga aura dzikrullah atau sebaliknya berhura-hura dalam keramaian menjelang kelahiran.
Semua adalah bentuk bagaimana manusia yang akan lahir siap nantinya setelah lahir dalam naungan pendidikan dalam tahap demi tahap. Selanjutnya adalah bagaimana manusia baru masuk dalam dunia pendidikan. Semua akan tergantung bagaimana orangtua mempertemukan dia dengan Tuhannya. Apakah si orang tua akan mendidik anaknya dengan berbagai perbedaan ormas Islam atau dia akan memperlihatkan kalau Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin. Semua akan kembali kepada ego orang tua yang akan menjadikan pendidikan karakter anaknya memenuhi tahapan yang benar. Dalam dunia pendidikan formal juga akan menjadikan si anak tumbuh dan berkembang. Semua juga akan tergantung bagaimana sekolah membentuknya. Apakah sekolah akan membentuk manusia yang sholeh atau justru sebaliknya si anak menjadi mundur setelah keluar dari sekolah sementara saat sekolah berprestasi. Ini adalah warna dari pendidikan yang perlu kita renungkan. Bukan bagaimana sekolah harus lulus 100% tetapi melegalkan segara cara untuk itu semua. Bukan bagaimana sekolah membangun gedung bertingkat untuk kemajuan sekolah sementara rapuh dalam pola asuh yang harmonis. Bukan bagaimana orang tua acuh dan acuh terhadap kondisi anak di sekolah, komunikasi dengan si anak kurang asik hanya membayar saja saat datang ke sekolah selebihnya tergantung guru. Dan masih banyak lagi polemik antara pelajar, guru dan orang tua serta tak kalah pentingnya kebijakan pemangku sekolah. Semuanya adalah warna dari pendidikan itu sendiri. Semua akan kembali bagaimana kita menempatkan setiap deskripsi kita selaku guru dan orangtua. Itu seni dalam pola asuh anak dalam tahapan siswa. Bagaimana dengan mahasiswa? Semua akan kembali bagaimana kualitas pemikiran setelah lepas dari bangku siswa. Apakah menjadi manusia yang berkualitas egois atau sebaliknya mengatur hidupnya dalam belajar, organisasi atau demonstrasi. Semua juga akan kembali kepada bagaimana saat bunda mengandung.
Dari uraian tersebut, bagaimana menjadikan manusia baru khususnya lewat pendidikan adalah upaya yang tidak semudah membalikan telapak tangan. Semua akan berpulang bagaimana pola pelatihan dan pendidikan yang diupayakan orangtua ataupun guru. Dan pada hakekatnya bahwa anak adalah warna yang indah namun ibarat baja, getas dalam pola asuh. Semoga akan sabar dalam mengolahya. Sekali lagi pendidikan bukan hanya bermain game dan browsing di dunia maya. Pendidikan adalah pola untuk mewujudkan manusia baru. Dan tolak ukurnya adalah mentalitas yang tangguh dalam segala bentuk cuaca buruk dan badai. Hakekatnya pendidikan lahir bagaimana manusia mau belajar dari segala bentuk pembelajaran lewat guru dan pengalaman hidup.
Semoga hari pendidikan bukan dijadikan untuk mengencangkan ikat pinggang tetapi dijadikan untuk melonggarkan ikat pinggang supaya peredaran darah kita mengalir dengan sadar.
Wallahu'alam Bishowwab.
Selamat Hardiknas
Pendidikan adalah untuk melahirkan manusia baru bukan menjadikan generasi baru untuk meneruskan warna sama dari generasi sebelumnya.
penulis,
chie

 
back to top