Tuesday, September 1, 2026

Meniti Titian Kiamat

Setiap manusia akan memperoleh hidayah saat mereka mengalami sesuatu yang menyebabkan hati mereka berubah dan kebiasaan mereka juga ikut berubah dengan sebab tersebut. Bagaimana bila belum ada sebab yang menjadikan mereka masih enggan dalam perubahan itu. Manakala mereka masih nyaman dalam pemikirannya menjadi manusia yang sempurna di mata mereka sendiri. Entah itu karena mereka merasa sempurna karena tingginya ilmu yang dimiliki, merasa mampu menjawab semua pertanyaan hidup, merasa mampu menjadi publik figur yang tenar, merasa mampu menjadi pemimpin yang hebat, merasa mampu membeli apapun karena kekayaannya, merasa mampu menunjukkan kedermawaannya karena uang yang banyak yang dimilikinya, entah mereka mampu karena punya massa yang pengikut yang banyak, merasa mampu menjadi pribadi yang istiqomah berbuat baik, dan masih banyak lagi keutamaan yang disandang setiap insan yang menjadikan mereka yaqin telah mandapat manfaat dan keberuntungan setiap saat dari lahir sampai sekarang. Mereka merasa sudah menjadi pribadi yang menjadi suri tauladan bagi sesama insan di lingkungan mereka. Merasa menjadi pribadi yang berfanmaat bagi sekellingnya sehingga tidak mau menerima orang lain yang dibawah statusnya. Merasa menjadi pribadi yang paling alim di sekitar lingkungannya, taat ibadah, taat hukum, taa terhadap kewajiban di lingkunganya. Bila hal ini sudah ada di jasad, jelas akan menjadi pribadi yang susah diajak diskusi, susah diajak komunikasi, susah diajak berteman dan susah menjadi kawan walaupun sesama Islam. Walaupun agamanya sama, walaupun kitab dan Nabinya sama, dan walaupun Penciptanya sama yaitu Allah SWT. Waktu dan kondisi datang adalah bagaimana waktu kiamat sudah dimulai dari kondisi ini, awal permulaan bagaimana orang-orang masjid saling beda pendapat dan pemikiran baik. 

Dibawah kehendak Allah akan datang saat manusia merasa menjadi pribadi yang terbaik tanpa cacat, merasa hidupnya yang paling sempurna. Imam yang selalu ramai jamaahnya, guru yang banyak fansnya, pemimpin yang banyak disanjung karena kebaikan dna ketegasannya, orang yang banyak teman dan komunitasnya, manusia yang bisa berbuat apa saja dengan uangnya, jabatan, ketampanan dan kecantikannya, manusia yang haus akan ilmu dan kefasihannya. Dan banyak lainnya yang merasa lebih baik dari orang lain. Padahal apabila dicerna secara sadar, kita semua adalah muncul dari campur tangan orang lain baik itu saudara, teman, sahabat, tetangga dan semua orang yang pernah dekat dengan kita. Tanpa campur tangan mereka takdir kita akan berbeda dari kenyataan sekarang. Dengan campur tangan mereka kita menjadi orang yang alim, dengan jamaah sholat kita menjadi imam, dengan upaya mereka kita bisa selamat. Dengan kebaikan mereka kita menjadi pribadi yang berlimpah kebaikan. Dan banyak hal ini yang menyebabkan nasib kita menjadi teladan di masyarakat kita. Apa semua kehendak Allah? Mungkin iya tapi jelas takdir kita ditentukan oleh orang-orang yang mengenal kita. Bukan tidak mungkin takdir kita yang jelek karena doa2 mereka yang teraniaya oleh kita. Ingatkah kebaikan manusia akan dimulai dari masjid-masjid dan kehancuran umat manusia juga kan berangkat dari masjid-masjid yangn berdiri. Dimana masjid-masjid yang berdiri membedakan makmum satu dengan yang lain, makmum yang sellau bikin onar dengan teriakan-teriakan kegaduhannya, makmum yang datang saat ibadah sudah berjalan dan makmum2 yang hanya sepintas saat beribadah. Namun apakah anda semua bisa menjawab pertanyaan saya : "Siapakah yang diterima sholatnya di semua masjid-masjid?" Silahkan dijawab, apakah orang yang sholatnya khusuk, apakah orang yang sholatnya sambil seenaknya sendiri bercanda, silahkan dicermati. Bila ini sudah bisa dijawab, layaklahkalau kalian mengenal takdir Allah SWT. Semuanya hanya Allah SWT yang tahu dan menjawabnya.

Semoga apa yang kita upayakan terhadap hidup kita untuk beribadah di dunia, menjadi pahala yang utuh tidak dikurangi dengan keculasan kita sebagai manusia.  Pahala kita mutlak tanpa losses atau raib dengan riya2 yang telah dilakukan. Semoga hidup di dunia kita mendapatkan kebaikan di akherat kelak. Semoga takdir kita menjadi batu loncatan pahala di akherat kelak. Semoga orant tua kita memaaafkan kesalahan-kesalahan kita dimasa hidup kita terhadap mereka, semoga anak keturunan kita juga mau memaaafkan atas kekhilafan kita sebagai orang tua mereka dulu dan yang akan datang. Semoga ilmu2 dari guru-guru kita menjadi cahaya penerang di alam barzah kita, dan semoga umur kita pangjang  dan mampu beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.

Ilahi anta maqsudi waridhoka matlubi atini mahabbataka wa ma rifataka

Wallahu'alam Bishowwab.

Penulis,

Muhshonu Rohman, ST

No comments:

Post a Comment

 
back to top