Dibawah kehendak Allah akan datang saat manusia merasa menjadi pribadi yang terbaik tanpa cacat, merasa hidupnya yang paling sempurna. Imam yang selalu ramai jamaahnya, guru yang banyak fansnya, pemimpin yang banyak disanjung karena kebaikan dna ketegasannya, orang yang banyak teman dan komunitasnya, manusia yang bisa berbuat apa saja dengan uangnya, jabatan, ketampanan dan kecantikannya, manusia yang haus akan ilmu dan kefasihannya. Dan banyak lainnya yang merasa lebih baik dari orang lain. Padahal apabila dicerna secara sadar, kita semua adalah muncul dari campur tangan orang lain baik itu saudara, teman, sahabat, tetangga dan semua orang yang pernah dekat dengan kita. Tanpa campur tangan mereka takdir kita akan berbeda dari kenyataan sekarang. Dengan campur tangan mereka kita menjadi orang yang alim, dengan jamaah sholat kita menjadi imam, dengan upaya mereka kita bisa selamat. Dengan kebaikan mereka kita menjadi pribadi yang berlimpah kebaikan. Dan banyak hal ini yang menyebabkan nasib kita menjadi teladan di masyarakat kita. Apa semua kehendak Allah? Mungkin iya tapi jelas takdir kita ditentukan oleh orang-orang yang mengenal kita. Bukan tidak mungkin takdir kita yang jelek karena doa2 mereka yang teraniaya oleh kita. Ingatkah kebaikan manusia akan dimulai dari masjid-masjid dan kehancuran umat manusia juga kan berangkat dari masjid-masjid yangn berdiri. Dimana masjid-masjid yang berdiri membedakan makmum satu dengan yang lain, makmum yang sellau bikin onar dengan teriakan-teriakan kegaduhannya, makmum yang datang saat ibadah sudah berjalan dan makmum2 yang hanya sepintas saat beribadah. Namun apakah anda semua bisa menjawab pertanyaan saya : "Siapakah yang diterima sholatnya di semua masjid-masjid?" Silahkan dijawab, apakah orang yang sholatnya khusuk, apakah orang yang sholatnya sambil seenaknya sendiri bercanda, silahkan dicermati. Bila ini sudah bisa dijawab, layaklahkalau kalian mengenal takdir Allah SWT. Semuanya hanya Allah SWT yang tahu dan menjawabnya.
Semoga apa yang kita upayakan terhadap hidup kita untuk beribadah di dunia, menjadi pahala yang utuh tidak dikurangi dengan keculasan kita sebagai manusia. Pahala kita mutlak tanpa losses atau raib dengan riya2 yang telah dilakukan. Semoga hidup di dunia kita mendapatkan kebaikan di akherat kelak. Semoga takdir kita menjadi batu loncatan pahala di akherat kelak. Semoga orant tua kita memaaafkan kesalahan-kesalahan kita dimasa hidup kita terhadap mereka, semoga anak keturunan kita juga mau memaaafkan atas kekhilafan kita sebagai orang tua mereka dulu dan yang akan datang. Semoga ilmu2 dari guru-guru kita menjadi cahaya penerang di alam barzah kita, dan semoga umur kita pangjang dan mampu beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.
Ilahi anta maqsudi waridhoka matlubi atini mahabbataka wa ma rifataka
Wallahu'alam Bishowwab.
Penulis,
Muhshonu Rohman, ST





No comments:
Post a Comment