Wednesday, April 17, 2024

SURAT KEPADA ALLAH

Bahasa jiwa manusia kadang akan mengalir seperti riak air, akan mengalir seperti derasnya air, akan syahdu laksana hembusan angin, akan kencang seperti pusaran air, akan indah seperti senyuman bunda, akan asyik seperti sentuhan kekasih, akan merana seperti kehilangan kekasih. Akan musnah seperti asap rokok, akan mudah menguap seperti air dalam bajana panas, akan membara laksana api dihembuskan angin blower, akan dingin seperti es yang melilit tubuh, akan sedih seperti anak angsa kehilangan induknya. Jiwa yang meronta adalah gambaran mata hati yang oleng karena keadaan fisik dan psikis yang sakit karena tersentuh sesuatu yang menjatuhkannya. Sesuatu yang membuat kebaikan jadi keburukan bahkan kebaikan dibalas keburukan. Dan sesuatu itu membuat kepasrahan hati menuju sang khalik. Akankah jiwa yang rapuh atau sengaja rapuh untuk bisa beribadah kepadaNya. Gambaran hal-hal ini adalah nuansa jiwa manusia dalam ekosistem dunia, ekosistem nafas yang berjalan bersama fisik yang berupaya hidup ditengah hiruk pikuknya dunia. Sehingga ujaran kata akan mucul bersama dawai nafas yang muncul karena lelah dalam keadaaan yang tidak jauh beda yaitu antara iktikad dan alibi manusia kepada Tuhannya. Adalah wajar bilamana manusia sudah terjatuh dan tidak berdaya bahkan terjatuh lagi untuk bisa dijatuhkan kembali sebagai figur yang salah. Apakah pernah Tuhan menyalahkan makhlukNya. Jawaban inilah yang merobah nilai menjadi sanggahan manusia kepada TuhanNya manakala tidak ada kebaikan yang dimunculkan oleh manusia kepada sesamanya.
Sungguh tragis manakala sebuah perubahan disanggah untuk melupakan perubahan itu karena dinilai tidak tepat bahkan katanya melanggar adab sesama insan. Apalagi figur saat berupaya merubah nilai menjadi berumerang. Sungguh sangat disayangkan apabila untuk meluruskan kebaikan justru dijatuhkan sebagai sebuah kesalahan.
Hingga apakah surat kepada Nya, Allah SWT harus diluncurkan .. Sunguh ironis, tapi tetap manusia harus meluncurkan..
Astaghfirullahal adhim
Yaa Rabb, ampunkan dosa-dosa hambamu ini
Yaa Rabb, bila hati ini rapuh kencangkanlah
Yaa Rabb..
Bila raga ini melemah kuatkanlah
Bila jasad ini tergores duri sembuhkanlah
Bila badan ini tersentuh api taburkanlah hembusan es
Bila nyawa ini masih panjang jadikan satu kebaikan untuk memanjangkannya
Bila bibir ini dibilang berdusta, satukanlah bibir dengan mata kaki
Bila ketikan tangan ini salah hapuskan dan ralat kembali
Yaa Rabb,
Manakala tatapam hati tidak bisa melihat lewat mata fana jelaskanlah dengan kacamataMu..
Bila mata hati salah menilai kebaikan jadikan satu kebaikan yang ada meluruskannya
Bila seumur hidup tidak pernah ada kebaikan di jasad ini ampunkanlah lenukkan lidahku untuk beristighfar atas namaMu
Sujudkan kepalaKu untuk Mu Yaa Allah..
Hancurkan mata hati yang mencoba menilaiMu
Hancurkan jiwa yang tidak beradab di hadapanMu
Yaa Allah,
Banyak manusia yang menilai salah dalam lembaran nyawa ini
Padahal semenjak kecil hati ini terjaga dalam kemurnian untuk menilai sesama
Terjaga untuk tidak berprasangka tidak tepat ke sesama
Namun dalam perjalalan hidup ini, jalan yang sama terlubangi sampai jiwa ini masuk
Yaa Allah,
Hingga yang terkasih menilai salah
Yang menimang juga menilai keliru
Yang mengasuh membaca beda
Yang bersama setiap waktu melupakan ku
Selalu jiwa dan raga ini terbuang menjadi satu kembali dengan rahmatMu
Yaa Rabb, Allah semesta alam
Tidak pernah jiwa ini menangis, tidak pernah raga ini menjerit
Namun kali ini, maafkanlah hambaMu ini bila aku terlena dalam jiwa yang berderai air mata
Walaupun hati tenang, tapi jiwa ini tergeletak pilu
Luruskan sisa nyawa ini untuk selalu mengingatMu
Tiada lembaran surga di dunia akan menaklukan hati yang terluka
Tiada bait kata yang mampu melerai tangisan jiwa
Tiada luka hati yang mengering bila selalu tergores
Maafkanlah Yaa rabb

Semoga surat ini salah kepadaMu ..

Qālụ sub-ḥānaka lā 'ilma lanā illā mā 'allamtanā, innaka antal-'alīmul-ḥakīm
Manusia hanya titipan Allah, tatkala sedang beriman, mereka akan mengejar kebaikan dan keselamatan dunia dan akherat. Apabila sedang jauh dari iman hanya takabur yang dipertemukan dengan sesama. Manakala sedang bertabur kenikmatan dan kebaikan, terkadang lupa biji yang jatuh dari tumpukan tangannya. 
Semoga Allah mengampunkan jasad dan hati ini.
Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad wa Ala Ali Sayyidina Muhammad

Wallahu'alam Bishowwab

Penulis,
Muhshomu Rohman, ST

Wednesday, May 19, 2021

Perjalanan Menuju Rahmat-Mu


Sekilas memandang hamparan sawah yang mulai beranjak menunjukan kehidupan setelah benih padi tersemai dan ditanam dalam petakan-petakan berderet sebelah gedung sekolah. Desir angin membawa lamunan setelah selesai menghadap-Mu dalam rengkuhan dhuhur yang indah. Dawai kegalauan sedikit beranjak manakala tidak dijumpainya teman-teman dekat seperjuangan. Mereka sudah terlebih dahulu pulang dengan urusannya masing-masing. Sambil menghela nafas rendah penulis merenung apa yang telah terlampaui selama ini. Merenung pula inikah perjalanan yang telah penulis lalui hingga saat ini. Berjuang untuk hidup dan menikmati hidup bersama dawai pekerjaan. Sambil duduk bersandar di pojok timur masjid Asma' Bin Abu Bakar penulis menghela nafas sambil melihat status WA seseorang yang lucu, disitu tertulis ada ucapan resmi dari Dirjen terkait Idul Fitri, penulis tersenyum ada seseorang yang gundah akan sebuah ucapan, tapi sudahlah penulis berfikir terlewat dulu apa yang tergiang di hati. Nikmati dulu sepoy angin menghembus masjid pada terik matahari setelah dhuhur. Ada getir yang punah entah apa yang ada dalam benak. Entahlah.
            Penulis tersentak manakala ada percakapan antara 3 orang jamaah sholat dhuhur sebelum turun dari masjid. Mereka asyik berbicara mengenai aktifitas di masjid. Asyik kedengarannya, namun lambat laun apa yang mereka argumenkan menaik menjadi sebuah bahasan yang lebih urgen yaitu tentang sholat, sholat berjamaah yang yang mengharuskan mengikuti ucapan imam untuk meluruskan dan merapatkan shof. Terdengar hal tersebut adalah hal yang umum sudah dibicarakan seorang muslim. Sudah semua orang mengetahui akan perihal tersebut, bahwasannya meluruskan dan merapatkan shot saat sholat berjamaah adalam merupakan salah satu kesempurnaan sholat. Namun yang penulis tergerak untuk mendengarkannya bahwa nuansa tema tersebut melemahkan siapapun yang tidak patuh akan hal tersebut seolah melemahkan seorang jamaah yang kurang mematuhi aturan tersebut. Apalagi kalau melihat kondisi masjid saat ini yang harus mematuhi protokol kesehatan karena efek pandemi Covid-19. Yang mengharuskan di masjidpun harus menjaga jarak dalam sholat. Sahkah meraka dalam bahasan tersebut, inikah yang membuat penulis galau mendengarkan pembicaraan tersebut terlebih ada yang keras berbicara seolah hal utama dalam sholat harus dipatuhi tidak boleh tidak. Akhir pembicaraan mereka turun serambi masjid dan beranjak pulang, satu orang pergi melangkah, kebeteulan melalui jalan depan penulis bersandar tembok. Penulis hentikan langkahnya.
Berhenti saudara, ada yang mau saya tanyakan. Begini, tadi jamaah yang sholat di masjid ini semuanya apakah anda tahu siapa sholatnya yang diterima Allah SWT?, Sambil bingung dia menjawab, Wah, kalau hal itu urusan Allah SWT. Terus sambil gusar penulis meneruskan, Kalau memaang seperti itu kenapa dipermasalahkan, sholat itu urusan Allah dalam menerima sekaligus pahalanya, sekarang begini sholat haruslah lurus dalam niatnya, menghadap Allah tidak terkecuali. Lepas itu lupakan hal yang lain satu tujuan menghadap Allah SWT. Sambil bergeser penulis menempelkan tangan yang terhunus seperti pedang menempel di sebelah leher orang tersebut. "Sekarang begini, kalau ini pedang apakah anda mampu berjihad seandainya ini siap menebas dan malaikat maut datang. Apakah anda siap untuk mati saat ini. Sambil gusar orang tersebut kaget, Maaf saya tidak siap. Sambil gusar penulis menyanggah. Kalau memang sholatmu itu sudah yaqin akan membawamu ke surganya Allah kenapa anda tidak sanggup. Apa yang anda bicarakan tentang sholat adalah amalan yang pertama kali dinilai, dimana kalau sholatnya baik semua amalannya baik, kenapa anda takut menghadap Allah saat ini. Bila memang kualitas sholat anda sudah yang terbaik. Sambil bingung dia diam terdiam."

Sambil tersenyum sinis penulis berucap, "Jangan suudhon terhadap orang lain apalagi sesama jamaah yang berjejer bersama imam yang sama. Jangan beranggapan hanya kamu yang mampu menerjemahkan kualitas sholat saat menghadap Allah. Yang terhisab tidak hanya sholat semua amalan akan terhisab di sisi Allah SWT. Apakah sholatnya terbaik amalan yang lainnya baik, wallahu'lam hanya Allah yang maha Mengetahui. Seorang ibu saja bisa masuk neraka kenapa karena tidak hanya amalan sholat saja yang ternilai dihadapan-Nya, walaupun seoang ibu melahirkan anak manusia. Jangan suudhzon terhadap orang lain bila ingin amalan mu tidak hilang. Jangan mengolah akal fikiranmu namun hatimu tidak pernah diolah, sudah banyak saya lihat bagaimana seorang muslim mengolah ketajaman ilmunya lewat ketajaman otaknya, namun hatinya tidak pernah terolah dengan dzikrullah, yang ada satu sama lain saling beragumen dengan aqli mereka tanpa mau mengalah tentang semua hal apalagi tentang ilmu Allah. Ini adalah hal yang melemahkan kenapa manusia tidak menajamkan hatinya untuk memperbaiki sholatnya."

Wassalamu'alaikum, sambil berlalu jamaah tadi yang merupakan salah satu pengurus masjid tersebut berlalu, wa'alaikumsalam wr.wb ucap penulis. Semoga dia memahami apa yang telah terjadi pada dirinya. Bahwa Allah adalah maha segalanya, entah itu manusia dalam taraf tertinggi yaitu sedang dalam beribadah kepada Allah ataupun seorang manusia sedang terjerumus dalam lembah maksiat. Allah SWT selalu mengingatkan bahwasanya kita tidak boleh takabur atas kesalehan kita. Astaghfirullahal 'adhzim, penulis beristighfar semoga ini adalah kesalahan penulis atas pembicaraan tadi. Semoga Allah menunjukan jalan yang terbaik atas ucapan-capan penulis. Sepanjang jalan sampai pulang kerumah penulis berfikir dan merenung nikmat Allah memang sangat besar, "namun manusia bolehlah memikirkan akan ciptaan-ciptaan-Nya tetapi jikalau manusia selalu berfikir akan zat-zat Allah, akal fikir kitalah yang akan terlena dan hati akan lemah dan gundah akan nikmat Allah SWT. Subhanallah wabihamdi subhanallahil adhzim, Allahumma sholli'ala muhammad wa 'ala ali sholli 'ala muhammad astagfirullahal 'adhizim waatubu illaihi."

Saudaraku, saat penulis merenungi ini semua semoga menjadi bahan renungan kita akan nikmat yang terlupakan, nikmat sehat dan kesempatan. Sehat menjalani hidup dan pekerjaan serta beribadah. Sempat dalam menggapai nikmat Allah. Seolah termangu bimbang penulispun tidak mengangkat video call dari teman-teman saat menjelang sore mereka menelfon. Maaf teman-teman hati ini masih gundah dan resah akan peristiwa siang tadi, semoga Allah menunjukkan MATA HATI penulis untuk selalu istiqomah terhadap Agama Allah SWT. Astagfirullahal 'adhzim.

Wallahu'alam Bishowwab.

penulis, 

Muhshonu Rohman, ST

Tuesday, May 18, 2021

Apa yang engkau renungkan saudaraku


Sejalan dengan berbagai raut wajah yang menaungi perjalanan hidup anak manusia, gundah adalah ratapan setiap insan sepanjang kaki dipijakkan. Nuansa selalu datang silih bergani menapaki alunan lembut suara adzan dan suara desingan peluru pada pesawat televisi saat Agen 007 James Bond beraksi. Itulah warna hidup akankah berubah menjadi suatu nurani tanpa lelah. Sejurus dua gerakan akan membentuk ornamen desahan. Sejauh ini, coba kita renungkan. Apa yang sudah kila lakukan selama ini. Apa yang sudah tercapai selama ini, apa pula kenikmatan yang sudah termiliki oleh kita semua. Sudahkah menjadi nilai yang indah dalam relung hati kita semua. Menjadikan kualitas bathin kita terjaga untuk selalu berkata syukur kepada-Nya. Ataukah masih bimbang atas ketentuan-Nya. Kalau mau berfikir dan berkata jujur, setiap orang masih punya harapan dan tujuan yang jauh dari angan-angan dan tarjet. Mungkin bagi kalangan manusia yang mempunyai taraf kehidupan yang mapan bahkan berlebihan. Meraka tidak mau tahu atau sambil berjalan ataupun malah sebaliknya super tarjet dan link and degree. Lepas dari itu pasti setiap manusia akan merasakan gundah atau lelah dalam berjalan. Akankah bingung sudah cukupkah ini semua untukmu.

        Kepribadian, ambisi dan ego adalah penentu kualitas watak dan karakter yang terbentuk untuk memiliki kualitas memandang alam dan isinya. Manakala Tuhan menciptakan manusia, tidak satupun makhluk yang sudah diciptakan terlebih dahulu oleh Allah SWT akan bisa memahami kesempurnaan makhluk yang namanya manusia. Dari penciptaannya manusia terbuat dari tanah. Secara fisik adalah lemah, tertusuk duri saja tidak tahan. Semua mencibir akan kemampuan manusia kelak. Tak terkecuali malaikat Allah. Mereka menyangsikan kemampuan manusia dibanding ciptaan yang lain. Iblis justru bingung akan ciptaan Allah, kenapa manusia diciptakan dari tanah. Karena bentuk manusia inilah yang menyebabkan munculnya polemik dan akhirnya dunialah yang tepat untuk wadah manusia menjadi perjalanan panjang sebelum ditarik kembali ke akhrerat. Manusia terlahir di bumi dan akan melewati perjalan usia yang akhirnya mati kembali ruhnya menghadap Allah.
Banyak sisi hidup manusia punya alibi seolah mereka adalah warna terindah dari manusia lain, semua seolah menoleh kepada kita. Kesuksesan, kejayaan, kenyamanan hidup, melihat kita seolah selalu sehat, beruntung, tanpa susah, disegani, punya jabatan, dihargai di sekitarnya. Dan semua hal yang indah dipandang manusia lain. Padahal Allah adalah zat yang maha tahu dan rahman.

Akhir kisah banyak manusia yang menilai manusia lain dari sudut pandang itu semua. Manusia yang sekiranya belum beruntung selalu dihujat, dicaci, dijelekan, di buli, dan disakiti hatinya tanpa menoleh bahwa yang menciptakan kita semua adalah Allah SWT. Belum tentu yang teraniaya akan lebih jelek kedekatannya dengan sang khalik. Belum tentu apa yang dimiliki ter buli yang seolah cobaan mampu disandang oleh orang lain. Bila hal itu keterbalikannya akankah sanggup mereka semua menyandangnya. Inilah dasar renungan sepanjang lepas perjalanan Ramadhan. Kenapa Syawal adalah bulan menetapkan kebaikan, bagaimana bulan Syawal adalah penentu menuju kebaikan yang lain. 

Mungkin akan lebih tepatnya biarkan saja mereka yang sudah membuat kita merenung dan gundah serta pedih terluka hatinya akan merasakan rasa yang sama bahkan lebih melalui perjalanan hidup meraka kelak, tidak salah apabila kita mendo'akan hal yang serupa kelak dilalui mereka, supaya bisa sama merasakan. Karena seorang guru bukan lah seorang yang terbaik, istilahnya pengalamanlah guru yang terbaik untuk bisa kita menjadi manusia berempati dengan benar.

Kalau menilik dari Silaturahim, pro kontra antara kebaikan dan keterbalikan, kebaikan adalah penentu itu semua, tak jarang selepas silaturahim banyak jiwa yang justru terluka karena ego saudara/famili sendiri saling menoleh dan melirik dengan sinis sehingga semakin melukai perasaan saudaranya.

Renungan insan adalah buaian masa depan yang akan berbuah manis atau berdarah. Tetapi setiap manusia yang bisa merenung adalah manusia yang selalu menajamkan mata hati untuk menjadi pribadi yang tawadlu, pribadi yang qonaah, pribadi yang tahu berterimakasih akan nikmat Allah yang sebenar-benarnya. Apabila Qur'an menanyakan "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?". Maka jawablah Yaa Rabb, Tak satupun nikmat-Mu yang telah aku dustakan.

Semoga menjadi bahan renungan saudaraku, Wallahu'alam Bishowab.

penulis,

Muhshonu Rohman, ST

 

Tuesday, January 14, 2020

ILMU YANG TINGGI MEMBUAT MANUSIA TIDAK BISA MENUNDUK

Rahasia manusia terhadap hidupnya dari kandungan hingga ditiupkan ruh, kemudian berkembang dalam tempat yang bebas asap kebohongan yaitu kandungan membuahkan manusia yang jujur. Setelah lahir keluar dari rahim ibunya, pendidikan ibu dan ayahnya menjadikan mental yang sesuai keberadaan orang tuanya. Bila orang tuanya adalah jiwa yang amanah, qonaah dan low profil serta beriman dalam agama Allah, jadilah anak yang sholeh dan sholehah dalam keberadaannya dimanapun ia akan bertemu kawan, rekan dan sahabat bahkan keluarganya. Banyak sekali orang tua yang menciptakan anaknya sholeh dan sholehah, namun justru banyak sekali pula orang tua yang jatuh dalam kondisi kesholehannya menurun dalam usia dan kematangan berfikirnya. Karena terbentur banyak faktor yang berjalan dalam kehidupan pribadinya. Harkat dan martabat terkikis oleh kemewahan dan kefatamorganaan hidup.

Apa yang dimaksud dengan itu semua, adalah jiwa yang selalu resah akan kebaikan dan membuat kebaikan terhadap orang lain dan lingkungannya. Sehingga kualitas iman dan agamnya justru membelengu untuk mencapai pahala yang sebesar-besarnya. Namun lupa apakah jiwanya berkarakter ibadah atau jiwanya bersebrangan dengan kualitas ilmunya. Karena semakin kualitas hidupnya naik, ilmunya tinggi, jabatannya tak terjangkau orang lain. Semakin tinggi pula setan akan menjamahnya dengan kekuatan yang besar. Inilah yang jarang dimengerti oleh orang beriman atau yang sudah tinggi kualitas ilmu dan ibadahnya.
Padahal rasululloh mencontohnya menjadi pribadi tauladan atau menjadi suri tauladan bagi umat seluruh dunia. Bagaimana beliau mencontohkan untuk selalu menjadi pribadi dan seorang pemimpin yang bisa menjadi pelindung dan berjiwa besar. 
Manusia akan jatuh dalam mata rantai pikiran saat jiwa sudah resah dan penat dengan kealiman dan kesholehan. Pikirannya akan terjerumus oleh tipuan setan yang selalu ikut mencapai kesuksesan seorang anak manusia. Siapa yang akan menyadarkannya, tentunya Allah SWT yang selalu membimbing umatNya dalam jalan kebaikan yang nyata. Kebaikan yang mencerminkan kesederhanaan semua lini dalam fisik dan psikis manusia. Jangan sampai saat di dunia selalu taat namun saat mendarat di akherat dia akan sekarat oleh hilangnya semua amal kebaikan di dunia akibat itu semua... Naudzubillah. Dalam setiap khutbah jum'at sang khatib selalu mengakhiri khutbahnya dengan ucapan wala dzikrullahi akbar yang terkandung maksud kita selalu mengingat Allah dalam segala kondisi, saat ibadahnya maksimal atau saat ibadahnya menurun, saat ilmunya bermanfaat atau saat ilmunya tidak mencapai manfaat, saat kesuksesan merajarelala atau saat kesuksesan menjauh darinya, saat semua menyanjung atau saat dia tersandung, saat agama Allah di dada atau saat agama Allah ada di ujung relung hatinya saja, saat kepala tengadah atau saat kepala sedang tertunduk atau kepala tidak mau menunduk di hadapan manusia lain.
Semoga setiap yang kita lakukan dalam wujud kebaikan sebesar biji sawi sekalipun tidak akan raib hingga akherat kelak. Wallahu'alam Bishowwab.

penulis,
Muhshonu Rohman, ST

Saturday, September 7, 2019

KARAKTER GURU DAN SISWA DI JAMAN REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Kata Bung Karno "Untuk membangun kita memerlukan technical and managerial knowhow. Tanpa technical and managerial knowhow kita tak bisa membangun. Untuk membangun kita memerlukan iklim politik yang favourable bagi pembangunan itu. Tiga inilah terisyarat bagi pembangunan; modal, technical and managerial knowhow, dan iklim politik yang favourable untuk pembangunan".
Bagaimana era sekarang yang terkenal dengan istilah Zaman RI 4.0. Semua tetap diukur dengan kemajuan dalam segala bidang dengan mencuatnya perekonomian rakyat yang stabil dan menaik. Apakah ini fakta atau mitos? Kita bertanya tentu semua orang akan bisa menjawab sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Apakah tolak ukur kesejahteraan sebuah bangsa diukur dengan warganya yang makmur dalam semua hal, dengan tingkat pengangguran yang di bawah garis kemiskinan. Tentunya tidak semua orang bisa menjawab dan mau menjelaskan secara fakta. 
Kemajuan sarana dan prasarana pembangunan sebuah negara akan menopang kesejahteraan rakyatnya karena semua terkendali dengan mudah. Seiring dengan itu bagaimana pola fikir dan pola saing kemajuan SDM dari lini bawah sampai garis tinggi. Siapa yang akan menjawabnya?
Tinjaulah sebuah iklim yang ada di dunia pendidikan, Indonesia tidak kurang orang yang brilliant dari segi ilmu dan komptensi. Namun tidak banyak yang mampu menerapkan ide-ide dari orang yang brillliant tersebut. Pendidikan dari jaman ke jaman mengalami pasang surut. Dari jaman pergerakan pemuda, banyak sekali pemuda berjuang demi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga lahirlah para pakar-pakar yang handal untuk memajukan negara dan bangsa. Namun tidak sedikit yang tergores politik dan kejamnya jaman. Yaitu banyak orang-orang pintar yang rusak moralnya sehingga banyak terjerumus ke lembah-lembah politik praktis bahkan atheis sehingga negarapun ikut goncang.   

Jaman sudah sangat berubah, tolak ukur manusia sukses di jaman ini adalah bagaimana bisa menge-share "dagangan" dalam hitungan menit. Mereka lupa bagaimana setelah dagangan laku apakah keuntungan saja yang akan dihitung. Tidak pernah berfikir bagaimana pengaruh jiwa setelah mendapat keuntungan. Tentunya jelas akan menjual kembali terus dalam kapasitas yang semakin diperbesar.
Inilah kualitas manusia era RI 4.0. Ilmu yang ditanamkan di sekolah dalam koridor akhlak dan jiwa tidak pernah dilirik apalagi dipakai. Pemenuhan kebutuhan ekonomi praktis selalu di kedepankan tidak pernah bernaung dalam koridor akhlak yang beragama yang ditonjolkan. Apakah hubungan guru dan siswa hanya sebatas sekolah. 

Sekolah yang di dalamnya ada Guru, siswa, orang tua, pengurus sekolah dan seterusnya di jaman ini telah sedikit bergeser dari koridor mendidik. Mendidik bukanlah menanamkan kesenjangan antara siswa dan lingkungan. Mendidik bukanlah mencuatkan kesuksesan sekolah dengan segudang prestasi, mendidik bukanlah mencari salah dan benar terhadap output siswa setelah di didik, mendidik bukanlah menanamkan sparatisme sebuah iklim kemajemukan ormas, mendidik bukanlah menanamkan hasrat menjadi yang terdepan, mendidik bukanlah menanamkan teknologi terkini untuk mengatur sistem pendidikan, mendidik bukanlah menyalahkan guru bagaimana cara mendidiknya, mendidik bukanlah siswa disalahkan atas ketidakpatuhan terhadap peraturan di sekolah, mendidik bukanlah mencari kemampuan siswa untuk mencari pekerjaan setelah lulus sekolah, mendidik bukanlah menanamkan nilai-nilai kebenaran saja tidak pernah melirik ketidakbenaran sebagai bahan acuan jiwa, mendidik bukanlah mengatur sistem yang komputerisasi untuk menjadikan sdm sebagai robot, mendidik bukanlah mencari sesuap ilmu untuk mengarungi samudra yang luas dan sebagainya. Mendidik bukanlah ketercapaian antara teori dan praktik/unjuk kerja namun penemuan hal baru antara teori dan praktik bukanlah guru sebagai ahli teori saja tanpa diberikan sarana praktik yang memadai. Sekolah dengan interaksi guru dan siswanya adalah perhelatan besar yang akan mewujudkan sebuah penemuan baru dan sebuah ilmu yang disampaikan sehingga melahirkan pola fikir yang urgen terhadap jiwa, pola fikir yang bisa merubah jiwa sehingga jiwa bisa tergugah untuk menemukan koridor karakter yang akan dikembangkan selanjutnya oleh si murid sebagai audiens, sedangkan skill adalah dominasi dari jiwa yang dituangkan oleh pola fikir di imbangi dengan kualitas fisik seseorang dari lahir dengan keterserapan ilmu yang diterima sejauh ini.
Mungkin semua orang bisa menerjemahkan bahkan bisa membuat orang pintar entah itu lewat pendidikan formal maupun non formal. Namun perkembangan psikomotorik seseorang tidak mutlak dipengaruhi oleh hal tersebut selebihnya banyak faktor yang membuat setiap individu menemukan ketajaman keilmuan maupun ketajaman akhlak atau ketajaman menelaah antara keseimbangan ilmu pengentahuan dan teknologi.

Guru kencing bendiri, murid kencing berlari. Bagaimana sebaliknya? Sekolah jaman RI 4.0 hampir membuat sekolah jadi rumah utama di samping lingkungan dan iklim rumah sendiri. Fullday School bukan barang baru lagi, yang katanya diharapkan mampu menggodog manusia menjadi robot dunia. Menjadikan output yang luar biasa, keluar lingkungan sekolah langsung jadi ulama, keluar lingkungan sekolah langsung jadi teknokrat, keluar lingkungan sekolah langsung jadi birokrat, keluar lulus dari sekolah langsung jadi interprener, keluar lingkungan sekolah langsung jadi gamer dan seterrusnya. Mitos atau sengaja dibuat fakta demi kemajuan bangsa dan negara. Sadarlah semua orang bahwa pendidik adalah sebuah harga yang sangat mahal untuk mencari pola yang benar demi eksisnya sebuah negara. Jangan sampai kita salah menanamkan karakter siswa yang nantinya akan berimbas menjadi generasi yang sebaliknya lepas kendali dari koridor pendidik itu sendiri. Yang pintar melupakan agama dan attitude nya bahkan melupakan negaranya, yang kompeten secara skill menjadi dunia sebagai tolak ukur kemajuan melupakan akherat, yang alim menjadikan teknologi sebagai tiang kemajuan bukan lagi empati sebagai sosok diri alimnya.

Semoga kita menjadi bangsa yang besar dengan komunikasi yang baik antara guru dan siswa. Menjadikan sekolah tempat mencari uang yang halal dalam arti mencari jatidiri siswa untuk menumbuhkan nutrisi yang tepat untuk menuju dunia dan akherat itulah uang yang halal dalam hitungan keselamatan dunia dan akherat.
Wallahu'alam Bishowwab.
penulis,
Chie (Muhshonu Rohman)

Thursday, March 28, 2019

UBK SMK 2019

Ujian Berbasis Komputer (UBK) adalah rentetan kesempatan akhir siswa dalam menempuh salah satu pendidikan pada tiingkat yang telah ditentukan. Pada tahapannya Ujian ini akan selalu mengalami berbagai macam permasalahan yang umumnya dihadapi oleh siswa atau peserta didik dalam tingkat/rombel pada semerter akhir. UBK pada SMK merupakan  salah satu bentuk kegiatan untuk mengukur kemampuan peserta didik pada tingkat XII sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka naungi. Pada perkembangan .... next

Saturday, December 9, 2017

DUNIA HANYA PERSINGGAHAN

Manusia kategori dikatakan mulai hidup setelah mereka keluar dari rahim ibunya. Kandungan adalah media untuk menemukan indera, jasad dan jiwa yang akan bertemu dengan Ruh. Setelah ruh di tiupkan, wujud utuh manusia dalam rahim akan mengalami evolusi dan hubungan dengan tiga segi. Orang tua, dunia di luar kandungan dan Allah SWT. Bagaimana pola ini akan sejalan dengan keberadaannya kelak. Kandungan memberikan warna utuh akan keagungan sang Khalik. Interaksi anak manusia di mulai dari rahim. Dan akan menjadikan bagaimana kualitas anak yang akan keluar jelas berasal dari awal mula bagaimana ibunya memberikan nilai yang utuh dalam jiwa sang bayi. Bagaimana ibunya berbicara, tersenyum ataupun tertawa. Sang bayi akan menemukan copy paste induknya. Inilah bagaimana letak kesalahan seorang ibu yang akan dibawa di pintu neraka, padahal jaminan surga adalah anak yang akan dikeluarkannya. Apa yang menyebabkan itu semua.

Dengan sedih penulis akan mengemukakan sebuah ornamen kehidupan manusia setelah mereka dilahirkan. Begini sisi lainnya. 
Seorang anak terlahir dari keluarga sederhana, pada tengah malam dia dilahirkan. Hujan deras disertai gemuruh petir bersautan menyambut datangnya jabang bayi. Saat itu sang ibu sudah merasakan sakit yang luar biasa. Ketuban telah pecah berbaur dengan erengan. Dengan tergopoh dan panik sang bapak berlarian ke tempat dukun bayi. Sambil menahan sakit ibu sang bayi yang masih di rahim menjerit histeris sekuat tenaga. Keluarlah jabang bayi mungil lucu dan gagah. Dengan tergopoh dan merajuk berbicara sendiri sang dukun bayi berlarian menyambut jabang bayi yang sudah jatuh di nampan. Dan seterusnya...

Ahhir kisah hiduplah sang anak dalam dekapan sang ibu sampai dia beranjak dewasa dan menikah. Dalam satu atap mereka menerima anak baru yaitu menantunya. Seperti kebiasaan wanita, setiap wanita pasti akan merasa bersiteru kalau bertemu apalagi dalam satu atap. Setiap hari mereka bertengkar pendek kata, beberapa jam akur selebihnya bertengkar atau sebaliknya. Entah ada sebab atau hanya nuansa sepele yang menyebabkan perselisihan. Sehingga riuh ombak sampai juga ke pantai. Sang anak atau suaminya selalu mendapatkan dualisme contoh dari perpaduan kosakata ibunya dan istrinya. Apa yang ada di benak sang anak, tentunya adalah dilema yang menyebabkan berubahnya perangai baik sang anak menjadi pola fikir arogan dan susah mendapat masukan. Karena setiap saat yang terjadi adalah masuknya hinaan dan cacian antar dua kubu yang saling berseteru. Itulah hebatnya wanita, senyum sambil bertengkar dan menangis sambil tertawa.

Berujunglah situasi ini pada halaman antara kodrat dan irodat. Banyak manusia pasti akan berfikir bagaimana surga akan di dapat dalam satu rengkuhan dua tiga pula terlampaui. Gampang dalam memikirkannya namun susah untuk mewujudkannya. Wanita akan mengalami gejolak jiwa manakala kesediahan, kegelisahan dan kegalauannya tidak tersandarkan oleh buah hati ataupun belahan jiwa mereka. Mereka akan berlari ibarat kereta malam ataupun pesawat tempur. Saling salip dan berujung dengan tabrakan drastis. Singkat cerita mereka saling berdiam diri dan emosi yang terpendam terus menerus dan tak pernah henti.

Polemik ini lambat laun mempengaruhi psikis anaknya. Anak merasa lelah melihat hal mubah selalu berujung dengan haram. Anak enggan bertegur sapa, menyapa yang satu marah. Tak disapa yang lainnya merana. Seolah sang anak telah terjual dimiliki oleh orang lain. Jadilah sang anak egois tak peduli sekeliling. Semaunya sendiri, keras, angkuh dan berpola fikir arogan. Produk inilah yang dilahirkan oleh ibunya sekarang. Jadilah kehidupannya bak berlari di atas bara api dan berselimutkan obor yang menyala. Hilang arah, seolah Allah telah membawa nyawanya menuju medan perang dengan desingan peluru dan panah berhamburan menyobek dada dan menyayat kaki sang anak.

Anak lupa bahwa telapak kaki ibunya adalah surga, dia oleng tak peduli karena kecewa dan marah akan perilaku yang selalu kembali pada kuasa Allah, bahwa DURHAKA adalah jawaban dari apa yang nantinya terjadi manakala sang anak menelantarkannya tipisnya marah kepadanya dia gusar dan berkata anak nakal dan durhaka. Apakah perkataan tersebut bisikan hati dari dukungan Allah kepadanya. Apakah Allah akan setuju manakala sang ibu membedakan kasih sayang dengan orang lain. Apakah Allah akan melupakan sang anak manakala anak selalu dekat dengan istrinya. Bisikan itu menguatkan dilema sang ibu untuk semakin membenci sang anak karena lepas bahkan "KATANYA" terlena dipelukan istrinya.
Inilah dengan sangat terpaksa penulis menulis sambil menangis dalam hati bagaimana seorang ibu justru menjerumuskan dan mendekatkan sang anak ke pintu neraka dan yang memilukan justru dengan kasih sayangnya dia menjebloskan anak dalam lubang api neraka. Bagaimana sang anak kalau marah apakah SAH bila sang Ibu mau naik ke tangga surga dicegat oleh sang anak karena di dunia sang anak terlena karena kesalahan ibunya? Apakah benar perkataan ini dilontarkan sementara jasad bernyawa sang istri selalu terdholimi baik oleh perkataan atau perbuatan ibunya. Bagaimana contoh ini bisa menjadikan sang anak yang memiliki anak lagi alias cucu neneknya. Bagaimana perilaku contoh ini justru menjadi kambing hitam sang cucu enggan mendoakan orangtuanya karena selalu bertengkar.
Akhir kisah, penulis mengajak berfikir realistis dan religius. Bahwasanya surga adalah milik ibu dan anaknya serta cucunya terhadap ortunya. Surga ini akan DIKENANG oleh mereka saat di surga dalam KHOUL atau SILATURAHIM di akherat kelak, keluarga besar atau Bani atau justru PR bagi kelauarga tersebut untuk menunggu salah satu keluarganya yang masih di NERAKA?. Semua akan kembali bagaimana seorang anak manusia menerjemahkan apa yang di makan sang ibu saat mengandung. Apakah asupan perkataan yang tidak baik saat mengandung, atau sambil bercengkrama dengan tetangganya menggunjing sedemian rupa sementara dia lupa sedang mengandung sehingga tak tahu kalau tetangganya yang digunjing sakit hatinya dan berujar jelek. Ataukah keberkahan makanan yang masuk ke ibunya dirampas oleh media yang lain. ISTIGHFARLAH sebelum terlambat bahwa seorang ibupun bisa masuk neraka karena sang anak terdholimi dan lupa karena sakit hatinya tidak mau mendoakan ibunya. 
Semoga penulis SALAH mengartikan itu semua. Namun segi analisis IBADAH adalah bagaimana membuat Allah percaya bahwa ibadahnya tidak tercampuri dengan penyakit yang ada dalam jiwa seseorang sehingga doanya selalu terarah lurus. Semoga sang anak selalu mendoakan ibunya walaupun HIDUPNYA dirundung kepedihan. DUNIA HANYA PERSINGGAHAN, apa yang di depan kita hanyalah fatamorgana hidup. Ilmu, harta, jabatan, hiburan dan kepemilikan hanyalah sementara, tak ada satupun yang akan terbawa ke alam kubur atau akherat. Marilah berbenah dengan doa yang baik yang menjadikan anak cucu kita yang terbaik dalam kehidupannya ke depan.
Fatamorgana hidup sering melupakan kecintaan terhadap semua hal, sehingga malah berbuah sebaliknya. Contoh yang baik bagaimana menjadi insan yang IHSAN dan DHOIF, selalu merasa SALAH terhadap apa yang kita perbuat di hadapan Allah SWT. Subhanallah wabihamd subhanallahil adzim astaghfirullah.

Wallahu'alam Bishowwab.
penulis,
Chie (Muhshonu Rohman)

Thursday, July 7, 2016

Kebaikan Hijriyyah

Berlomba kembali dalam keramaian Hijriyyah adalah sebuah tugas berat dalam dentingan waktu pergulatan umat manusia. Manakala kecewa dengan hilangnya ramadhan namun lupa akan munculnya kebaikan menjelang ramadhan. Ramadhan adalah bulan hikmah, hikmah dimana manusia bisa menjadi lebih adil. Adil terhadap dirinya sendiri meluruskan niat yang terlupakan yaitu dzikrullah. Dzikir setiap saat selain di bulan ramadhan ibarat dzikir tanpa pujian dan reward_Nya, sementara dzikir (ingat) kepada Allah SWT saat bulan ramadhan adalah keberkahan yang tidak semua orang mampu mencernanya. Adil terhadap kelebihan diri dan melupakan sujud kita kepada Allah SWT yang selama 11 bulan menengadahkan muka dan membusungkan dada hingga malaikat malu akan hamba Allah yang satu ini yaitu manusia. Adil terhadap perilaku jasad kita yang selalu  diperlakukan dengan glamour baik fisik, hati dan pikiran, yaitu tanpa mnegenal lelah mencari sesuap nasi, kemulyaan dunia dan kemashuran ilmu. Hingga datang ramadhan membukakan mata setidaknya ingat kembali kebiasaan kita saat masih aktif berbuat baik.

Apa yang akan kita munculkan dalam fikir manakala lilin yang meleleh akan mengakhiri hidupnya. Solusi yang dimunculkan mengganti lilin yang baru tentunya. Setiap yang menyala pasti akan padam. Bagaimana bila nyala terus bisa ada saat ada yang siap akan mati. Tentunya bila ada pengganti dan penggantinya dalam jumlah yang tidak terhitung. Saudara sekalian yang budiman, apa yang menjadikan kita sebagai manusia yang bisa menjadi contoh kebaikan bagi manusia yang lain?. Adalah kita saat memberikan perilaku terhadap orang lain menemukan sisi komunikatif yang terbaik, contoh kecil kebaikan akhlak kita terhadap keluarga, teman, tetangga, masyarakat dan sebagainya. Kebaikan itu mungkin akan terkenang saat nyawa sudah jauh dari raga dan mutlaklah bagi setiap manusia terhadap manusia yang lain. Bilamana dekat saling hujat manakala jauh dan menghilang saling melontarkan kata silaturahim dan memaafkan, itulah wajah manusia.

Berbahagialah bila kita bisa selalu memberikan kebaikan pada diri kita, mempunyai kekuatan walaupun sedikit untuk mencari kebaikan yang selalu mengalir. Kebaikan yang dimunculkan untuk memberikan kebaikan yang lain terhadap yang lain pula. Adalah hijriyyah memberikan waktu untuk mengawali perjalanan dalam padang masyar. Melewati banyak tantangan selama 11 bulan mendatang. Pada bulan ini bagaimana manusia akan di uji untuk menjalani kerasnya kehidupan ke depan.
Kehidupan manusia yang tidak ada ujung dan pangkalnya. Kehidupan yang membawa manusia pada kelelahan. Kelelahan dalam menuai ibadah, menuai kenikmatan dan menuai harapan panjang di akherat kelak. Bagaimana manusia berjuang untuk patuh kepada Allah SWT setiap detakan jantung, sementara setiap seper seribu detik setan gonjang ganjing dalam alam fikiran kita manusia untuk membuat onar dan membuat persahabatan di akherat. Lewat awal bulan setelah lepas ramadhan manusia akan menjalani serangkaian bekal menuju padang mahsyar, bekal yang membuat bekal yang sudah ada menjadi lebih kuat yaitu berlomba mempertajam kebaikan.
Apapun yang diupayakan manusia terhadap hidupnya sendiri dan keluarganya selama di dunia adalah jawaban bagaimana kita menjadi manusia yang sempurna seperti yang diberitakan Allah SWT. Semoga kebaikan dan keselamatan akan selalu ada menerangi hidup kita sepanjang waktu dan akan menjadi lentera kelak di akherat. 
Wallahu'alam Bishowwab.
penulis, chie

Thursday, June 30, 2016

Pepatah

Naluri sebuah wujud dari kebiasaan. Bagaimana kebiasaan kita memulai sesuatu dengan berdalih ibadah. Bagaimana manusia mewujudkan ambisi dengan kekuatan doa. Bagaimana sebuah keinginan melampirkan CV ahli ibadah dan tumpukan ilmu. Bagaimana manusia menunjukan perangainya dalam koridor wajah dan kemulyaan harta, bagaimana manusia menampakan aliansinya karena kekuatan jabatan yang dimiliki. Semua adalah anugerah yang terlanjur manusia ucapkan lewat bibir. Andaikan setiap yang menaungi di badan kita selalu kita sembunyikan, merupakan warna manusia yang berwajah istiqomah berhati kamil. Namun semua adalah ilusi bahwa tidak ada seorang manusia biasa yang mampu menyembunyikan kelebihan dari dirinya daripada kekurangan yang dimilikinya. Itulah naluri seorang beriman yang larut dalam kebiasaan menghamba kepada Allah namun pundak kita saat bersujud berat dengan keangkuhan namun tak kuasa menahan kelebihan diri yang dimiliki dari orang lain. Alkisah hadirlah yang dinamakan egois dalam pandangan Allah SWT.

Allah menciptakan manusia berpasangan. Setiap pasangan akan melengkapi pasangan yang lainnya karena kelangkapan dunia adalah setiap yang mempunyai pasangan. Ada siang dan malam, ada barat ada timur, ada laut ada pula daratan, ada awal dan akhir, ada ramadhan ada gemuruh idul fitri, ada kelahiran ada saatnya kematian. Nuansa ini diciptakan Allah untuk menyadarkan manusia bagaimana pentingnya memanfaatkan hati untuk mengilhami berperilaku dzikir (ingat) akan Allah dalam setiap hendatakan nafas kita. Bagaimana nurani kita selalu akan di hujani makalah dengan aroma bertafakur, aroma surga, bagaimana Allah menunjukkan bahwa surga di depan mata kita. Namun setiap nafas manusia pasti akan mengalami losses, akan mengalami derita fatamorgana yaitu fatamorgana ilmu ataupun fatamorgana gengsi, ambisi, harta bahkan fatamorgana ketidakpastian Allah akan nasib kita selama ini yang mungkin notabene belum sukses, belum banyak rejeki, belum banyak anak dan sebagainya. 
Ibarat tirai dalam rumah kita. Tirai akan ditutup manakala senja mulai turun petang dan malampun tiba. Tirai tertutup menyusul lampu dinyalakan. Saat fajar terbit tirai dibuka dengan bangga menyambut udara segar dan sorotan sang surya. Bisalah tirai merupakan harapan baru melihat mentari, adalah tirai ungkapan rasa syukur atas anugrah malam. Namun apa yang terjadi saat ini tirai jarang terbuka karena ruangan kita terselimuti dengan kesejukan, kesejukan AC dan sinar yang menarik dari lampu yang kita terangi setiap saat. Sehingga apa yang terjadi, ungkapan syukur yang berlebihan atas nikmat glamour dari fasilitas terknologi, wajah kita akan menyembul dari balik tirai dengan raut pucat.
Saat kita terlena adalah saat kondisi kita lelah. Hingga muncul kesenjangan akan pasangan hidup kita. Apa yang diupayakan Allah merupakan hal terbaik dari apapun yang dimiliki oleh kita, saat kita meminta lebih dariNya saat itu pula jatah kenikmatan kita di surga kelak akan dikurangi Allah SWT. Saat kita meminta emas permata di dunia, jatah emas permata di akherat akan dikurangi, saat kita meminta pasangan ataupun ingin menukar pasangan hidup kita di dunia, Allah akan menukar pasangan hidup nikmat yang ada di surga kelak. Keyakinan dari kemampuan dan ilmu lewat erengan dan do'a yang kita miliki bukan penentu dari keputusan Allah akan masa depan kita. Semua akan kita miliki saat kita berucap syukur sedalam lautan hati, namun sedikit saja keragugan dari sifat hati kita Allah akan mengetahui menukar dengan nikmat lain yang justru menjadi wujud penyesalan kita. Hingga muncul pepatah "dalamnya lautan bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu".
Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur adalah uangkapan untuk kemaslahatan umat dalam ekosistem, Rabbana Atina Fid Dunya Hasanah adalah ungkapan hati untuk kesuksesan di dunia dan akherat. Sementara kunci itu semua adalah Khusnul Khatimah. Jasa Allah akan hidup dan kemulyaan saat hidup di dunia adalah beban pundak kita. Jasa kita kepada Allah adalah semua nikmat yang kita miliki hanya ungkapan syukur saja yang diharapkan oleh Allah SWT tidak lebih dari itu. Bagaimana bisa kita meminta yang lebih dariNya manakala hati kita hanya sekedar galau tentang perjalanan hidup kita terlebih terhadap pasangan hidup kita.

Nurani adalah warna dari kehidupan, saat nurani lepas dari koridor kita akan menjunpai banyak kenikmatan bagaimana kenikmatan akan mengembalikan pada sifat dan jatidiri kita menjadi kembali zuhud adalah kembali pada diri kita mau atau tidak. Semoga Allah memberikan sebuah kemampuan untuk mengembalikan pada jatidiri kita yang sebenarnya sebagai manusia untuk kembali dengan selamat. Amiin.
Wallahu'alam...

penulis,
Muhshonu Rohman(chiezhoen)

Sunday, December 27, 2015

Kaleidoskop Akhir Tahun

Ada awal pasti akan selalu ada akhir, itu yang selalu ada pada bentuk dan semua hal yang ada di dunia. Tak terkecuali sebuah cinta, cinta akan leleh manakala ada halangan yang tidak bisa kita terjemahkan dan berujung solusi dari kebaikan, sehingga tak lepas dari ujung dan pangkal. Kecuali cinta kita kepada Nabi dan Allah SWT yang seharusnya tidak ada ujung dan pangkal dalam memberikannya. Bisakah itu terjadi pada manusia biasa? Jawabnya adalah tergantung keimanan kita akan kehendak Allah SWT. Setiap manusia yang berkendak pasti tidak akan semulus yang terjadi, istilahnya setiap keinginan manusia sering mengalami perbedaan kenyataan yang terjadi setelahnya. Dan hal tersebut jelas akan menjadikan perubahan pada perilaku dan karakter kita. Karakter yang selalu tumbuh dan berkembang sehingga akan melunturkan sebuah cinta.

Setiap manusia mempunyai harapan dari warna perubahan dalam perkembangan usia dan jatidirinya. Biasanya akan merekatandai dengan kebaikan dan perubahan bentuk dari tahun ke tahun. Umumnya manusia menandai kematangan dan keberhasilan dalam kurun waktu tahun. Bagaimana perubahan yang terjadi selama setahun tentang harapan yang diinginkan. Awal dan akhir ini yang menjadikan bentuk kemajuan dan keberhasilan dalam perjalanan hidupnya. Keberhasilan manakah yang menjadi tolak ukur manusia dalam setahun pada kalaidoskopnya.
Manusia akan merasa sengsara manakala banyak keraguan dan kebencian yang menaungi hidupnya bahkan ditambah ketidaksuksesan hidup yaitu belum cepat dalam keberhasilan, belum cepat dalam kakayaan, belum cepat dalam semua hal yang menjadikan keinginan tercapai. Baik itu dengan keluarga, pasangan hidupnya, teman, saudara dan lngkungannya. Namun pernahkah berfikir pada perubahan yang mendasar pada dirinya yaitu perilaku yang terus membaik dalam rentang waktu bertambah usia dalam setahun. Justru banyak hal yang melunturkan ini karena faktor yang membentuk keraguan dan kebencian yang merubah segalanya.
Pernahkah setiap manusia yang beriman berfikir kalau Tuhanmu tidak pernah memberikan kejelekan kepada hidup kita. Pasti jawabnya adalah tidak, padahal kita selalu mengingkarinya karena ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan hidup kita. Yang ada adalah akan menyalahkan Tuhanmu pada akhirnya yang berawal menyalahkan hidup kita bahkan pasangan hidup kita yang selalu menemani setiap langka kita. Pernahkan sekali saja berfikir ketidakberuntungan hidup kita berawal dari sebab lain, sebab yang menyebabkan hati kita tertutup untuk memberikan kebaikan pada orang lain yang justru selalu mencari kebaikan diri kita melupakan kebaikan orang lain. Tanpa disadari selalu menelanjangi diri kita sendiri dari orang lain oleh ucapan, perangai dan karakter kita hingga jiwa kita terbakar dan membentuk awan hitam menutupi amal kita sehingga menutupi keberhasilan hidup kita, dan banyak hal yang kita melupakannya.
Setiap akhir tahun biasanya menjadi tolak ukur segalanya tetapi apa itu mutlak, sepantasnya apakah kebaikan dan kesuksesan kita di akhir tahun. Sementara tidak pernah memikirkan bagaimana tolak ukur keberhasilan manakah yang menjadi jiwa kita tenang tidak lepas dari koridor cinta. Ataukah keberhasilan dan kesuksesan kita justru akan melunturkan cinta kita kepada pasangan hidup kita, orang tua kita, teman, sahabat dan orang yang selalu menemami dalam suka duka hidup kita selama ini. Renungan inilah yang akan membawa warna kesuksesan baru dalam awal dan akhir tahun ke depan.
Hal yang membahagiakan adalah bagaimana Tuhanmu memberikan kebaikan dalam bentuk kesehatan, kematangan jiwa, kemajuan kesalehan, perkembangan berfikir, perkembangan empati, perkembangan moral dan kearifan agar mampu kebaikan ini di bawa sampai akhir hayat. Namun justru kebaikan tentang kemajuan kekayaan dan kesuksesan yang menjadi tolak ukur manusia berhasil hidup di dunia. Kewajaran ini adalah mutlak karena inilah sebenarnya harapan manusia walaupun sampai setinggi mana keilmuan yang dimiliki. Semua akan berujung pangkal kepada kesuksesan harta dan kemewahan sementara faktor lunturnya cinta adalah akhir dalam analisa akhir tahun kita. Sehingga cinta akan bermakna awal dan akhir pada diri manusia. Semoga hal itu adalah isapan jempol saja dan kita akan selalu menjadi manusia bersyukur, bersyukur menemukan pasangan hidup kita dan selalu mencintai dan menemani sampai akhir hayat. Sehingga ibadah kita menjadi bermakna untuk menemukan jaman keabadian yaitu akherat kelak.
Wallahu’alam Bishowwab.

Penulis,
Chie, Muhshonu Rohman.

Saturday, May 2, 2015

Hari Pendidikan milik semua orang

Setiap manusia akan mengalami tahapan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Tahapan ini adalah kompleks, yaitu meliputi perkembangan fisik dan psikomotorik. Aspek ini akan berkembang menjadi kualitas manusia yang muncul dari hasil sosio emosional dengan ekositem di bumi tempat mereka semua belajar. Belajar mengerti apa kegunaan hidup di dunia dengan segala hal yang berbau kenikmatan. Proses manusia akan terus berlanjut selama setiap manusia baru lahir.
Bagaimana manusia baru akan lahir menjadi sebuah permata dari peradaban dunia. Semua akan tergantung bagaimana kualitas yang melahirkannya. Induknya adalah seorang ibu. Ibu adalah gambaran manusia yang terlahir menjadi fitroh manusia baru. Kualitas dari manusia baru yang dilahirkan adalah berawal darinya. Bagaimana faktor emosional seorang wanita akan melahirkan manusia. Di mulai dari bagaimana membuat manusia baru yang akan menyatukan air menjadi segumpal daging. Lewat warna dan aura yang bagaimana bertemunya sebuah kenikmatan dan cinta. 
Sehingga jadilah ornamen calon manusia baru dalam rahim. Mulailah setiap detik dan menit aura dan nadi wanita calaon ibu akan mengalirkan darah ke rahim. Darah ini akan berpijak dari setiap aura hati yang dipancarkan setiap waktu. Pembelajaran ini yang akan membuat wajah manusa baru tahap demi tahap. Asupan makanan yang di filter dengan bijak akan menyebabkan alunan fisik dan hati janin menjadi sempurna, tentunya bagaimana pola dan arahan makanan yang masuk sesuai dengan kiblatnya yaitu bebas dari fitnah dan haramnya makanan tersebut. Kemudian bagaimana pola stabilitas hati seorang ibu setiap harinya, apakah selalu tawadhu' ke suaminya dan selalu berbicara dengan lemah lembut atau sebaliknya. Kemudian apakah seorang ibu juga selalu menebarkan empati dan kedamaian dalam sosio komunikasi dengan masyarakat atau sebaliknya. Bagaimana juga seorang ibu pada kehamilannya selalu mengasah pikiran dan refleksi diri prihatin dan menjaga aura dzikrullah atau sebaliknya berhura-hura dalam keramaian menjelang kelahiran.
Semua adalah bentuk bagaimana manusia yang akan lahir siap nantinya setelah lahir dalam naungan pendidikan dalam tahap demi tahap. Selanjutnya adalah bagaimana manusia baru masuk dalam dunia pendidikan. Semua akan tergantung bagaimana orangtua mempertemukan dia dengan Tuhannya. Apakah si orang tua akan mendidik anaknya dengan berbagai perbedaan ormas Islam atau dia akan memperlihatkan kalau Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin. Semua akan kembali kepada ego orang tua yang akan menjadikan pendidikan karakter anaknya memenuhi tahapan yang benar. Dalam dunia pendidikan formal juga akan menjadikan si anak tumbuh dan berkembang. Semua juga akan tergantung bagaimana sekolah membentuknya. Apakah sekolah akan membentuk manusia yang sholeh atau justru sebaliknya si anak menjadi mundur setelah keluar dari sekolah sementara saat sekolah berprestasi. Ini adalah warna dari pendidikan yang perlu kita renungkan. Bukan bagaimana sekolah harus lulus 100% tetapi melegalkan segara cara untuk itu semua. Bukan bagaimana sekolah membangun gedung bertingkat untuk kemajuan sekolah sementara rapuh dalam pola asuh yang harmonis. Bukan bagaimana orang tua acuh dan acuh terhadap kondisi anak di sekolah, komunikasi dengan si anak kurang asik hanya membayar saja saat datang ke sekolah selebihnya tergantung guru. Dan masih banyak lagi polemik antara pelajar, guru dan orang tua serta tak kalah pentingnya kebijakan pemangku sekolah. Semuanya adalah warna dari pendidikan itu sendiri. Semua akan kembali bagaimana kita menempatkan setiap deskripsi kita selaku guru dan orangtua. Itu seni dalam pola asuh anak dalam tahapan siswa. Bagaimana dengan mahasiswa? Semua akan kembali bagaimana kualitas pemikiran setelah lepas dari bangku siswa. Apakah menjadi manusia yang berkualitas egois atau sebaliknya mengatur hidupnya dalam belajar, organisasi atau demonstrasi. Semua juga akan kembali kepada bagaimana saat bunda mengandung.
Dari uraian tersebut, bagaimana menjadikan manusia baru khususnya lewat pendidikan adalah upaya yang tidak semudah membalikan telapak tangan. Semua akan berpulang bagaimana pola pelatihan dan pendidikan yang diupayakan orangtua ataupun guru. Dan pada hakekatnya bahwa anak adalah warna yang indah namun ibarat baja, getas dalam pola asuh. Semoga akan sabar dalam mengolahya. Sekali lagi pendidikan bukan hanya bermain game dan browsing di dunia maya. Pendidikan adalah pola untuk mewujudkan manusia baru. Dan tolak ukurnya adalah mentalitas yang tangguh dalam segala bentuk cuaca buruk dan badai. Hakekatnya pendidikan lahir bagaimana manusia mau belajar dari segala bentuk pembelajaran lewat guru dan pengalaman hidup.
Semoga hari pendidikan bukan dijadikan untuk mengencangkan ikat pinggang tetapi dijadikan untuk melonggarkan ikat pinggang supaya peredaran darah kita mengalir dengan sadar.
Wallahu'alam Bishowwab.
Selamat Hardiknas
Pendidikan adalah untuk melahirkan manusia baru bukan menjadikan generasi baru untuk meneruskan warna sama dari generasi sebelumnya.
penulis,
chie

 
back to top