Perjalanan sebuah kemerdekaan seseorang mengalami pasang dan surutnya peradaban. Ada saat penuh dengan hujatan, fitnah dan semuanya yang berbau pelecehan. Ada saat dimana curahan rasa dan humor (curanmor) dijadikan senjata untuk menjatuhkan. Ada saat pengabdian dibalas dengan colekan tahi kerbau di muka. Ada saat kesalahan dijadikan senjata untuk memberantas kelemahan, sehingga tidak dapat berkutik akhirnya hancur. Dan banyak cara untuk memperebutkan sebungkus nasi untuk meneruskan hidup. Sungguh alangkah munafiknya manusia sehingga bagaimanakah keseharian kita dengan ibadah yang dilakukan?. Apabila semua itu dilakukan dengan sadar dan angkuh. Jawabnya adalah hati orang siapa tahu. Dan semuanya adalah adanya bisikan “receh” untuk membungkam orang lain. Mengangkat diri menjadi manusia yang mampu dibanding orang lain.
Banyak sudah hal tersebut bermunculan dalam sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti halnya butiran pasir di laut. Akan lari kesana dan kemari disapu terjangan ombak yang tak kunjung reda, sepanjang detik. Budaya-budaya menghasut, budaya menghina, budaya mencibir, budaya mengejek, budaya menghardik, budaya memfitnah, budaya mengkambinghitamkan, budaya memprovokasi, budaya manipulasi. Memang sudah ada sejak zaman ini diciptakan adanya hal tersebut. Namun dengan seiring semakin mudahnya manusia mendapatkan apa yang diinginkannya dengan fuluz, lupalah semuanya. Lupa saudara, lupa teman, lupa rekan kerja, lupa kekuasaan dan lupa berbagi dengan orang lain. “Sehingga yang lebih fatal dilihat dari sudut pandang agama adalah lupa menjadi seorang pemimpin yang siap mempertanggungjawabkan kepemimpinannya kelak di akherat.”



