Wednesday, February 27, 2013

Memejamkan Indera Sejenak

Setiap yang hidup akan mengalami sebuah kematian, semua yang berjalan akan memasuki area parkir, segala hal yang membuat tertawa akan berubah menjadi sesuatu yang menjadikan kita menangis, apapun yang membuat bahagia juga akan berubah menjadi sesuatu yang akan melahirkan kesedihan sepanjang waktu dan tak pernah berhenti ibarat dendam yang selalu muncul siang malam sebelum terbalaskan. Namun seringkali kita melupakan segala sesuatu yang membuat jiwa kita tenang walaupun di tempat kotor sekalipun. Di masjid, sebuah rumah milik Allah SWT seringkali menjumpai wujud nyata dari perangai manusia. Setiap yang memasuki rumah_Nya akan terlihat watak manusia sesungguhnya. Setiap menghadap Allah SWT jelas siapapun tidak akan bisa menyembunyikan sebuah kenyataan kalau hatinya sedang gundah, jiwanya rapuh dan hidupnya galau. Entah karena faktor kefanaan maupun faktor yang jauh dari rasa sayang kepada Allah SWT. Maksud penulis faktor yang membuat hati kita sombong menghadap Dia. Karena banyak sekali kegagalan setelah keluar masjid, kembali mereka meraup kemewahan, kedengkian dan kemunafikan. Berarti kesiapan kita akan ajal dan sebagainya adalah sebuah perjalanan yang panjang membutuhkan kecerdasan spiritual, karena bukan tidak mungkin yang setiap 5 waktu sujud justru pertama kali akan masuk neraka saat dihisab kelak. Na'udzubillah.
Nilai akhlak tak sebanding dengan aqidah yang selama ini diperjuangkan dalam bentuk amal dan pahala, sujud kita sepanjang waktu, puasa kita sepanjang hayat dikandung badan sebuah kemuskilan jasad dan ruh, bahkan pangkat kita selama menjalani kemulyaan hidup di dunia dan sebagainya adalah sebuah bongkahan batu yang bersarang di pundak dan semakin berat saat kita sujud sholat di masjid. Inilah yang membedakan manusia satu sama lain dipandangan Allah SWT walaupun manusia tersebut kaya raya dan punya pangkat menjulang setinggi langit. Di hadapan rumah Allah SWT semua orang berhak jadi Imam, semua orang berhak menjadi makmum dan semua orang dalam berbagai pandangan tentang Al-Islam mempunyai kesempatan yang sama yaitu bisa duduk tafakur dan sholat sepuasnya menghadap Allah SWT. Tidak ada larangan sedikitpun kecuali jasadnya kotor dengan baju bersimbah lumpur walaupun hatinya suci mengahdapnya ataupun sebaliknya. Nilai manusia di mata Allah saat memasuki masjid bukan karena pangkat atau jabatan serta kekayaannya, namun bagaimana dia bisa sabar duduk di masjid walaupun tertidur setelah berdzikir memanjatkan keagungan Allah SWT.
Batasan antara hak dan bathil adalah bagaimana kita keluar masjid membawa sandal atau membawa kedamaian dan keyakinan akan nikmat Allah SWT. Dan jarang sekali dari setiap manusia yang Muslim akan berubah akhlaknya setelah memasuki masjid, bahkan yang kelihatan adalah bagaimana manusia tersebut sombong atas semua amaliah yang telah dikerjakannya dan setelah keluar masjid mulailah dia meluaskan kesombongan dihadapan manusia yang lain. Ibarat syaitan terhipnotis manusia, syaitan yang ibarat sebuah air berubah menjadi es. Sebelum air menjadi es tidak akan mungkin air itu bisa dipegang dengan tangan, namun setelah air tersebut menjadi es karena keyakinan kita barulah air tersebut bisa kita pegang karena telah berubah menjadi bongkahan es dingin dan beku. 
Sujud kita saat sholat membawa bongkahan bahkan gunung dosa dan kesombongan, akan semakin berat dan melenakan fikiran dan hati kita dari tafakur, keikhlasan dan hati/watak yang baik atau berubah membaik. Justru semakin kita sujud hati kita gundah antara keangkuhan dan nikmat. Inilah sebuah dilema manusia menghadap Allah SWT sebagai manusia yang menyandang predikat Muslim. Bagaimana saat dia menjalani sakaratul maut? Semua akan kembali kepada keyakinan kita masing-masing apakah mau memegang mengendong syaitan saat sujud kita di masjid atau membawa syaitan dengan tangan di belakang saat berjalan setiap harinya..
Nikmat hidup adalah bagaimana meniadakan unsur yang akan membukakan hati kita ke arah bathil namun meminimalkan sebuah kemudhorotan untuk mencapai nikmat yang lebih luas yaitu ruh, hati dan jasad damai menjadi manusia ukhrowi.
Wallahu'alam Bishowwab.
Subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim
Penulis,
ChieZhoen

Friday, January 25, 2013

Untuk sebuah nama

Mursyid, ustadz, guru atau apapun sebutannya, sebuah warna yang menunjukkan hitam dan putih warna dalam ritme kehidupan manusia. Banyak sekali kalangan yang menilai bahwa ungkapan tersebut mengandung falsafah yang luas dan tinggi. Makna tersebut akan melahirkan sebuah ornamen yang mutlak/wujud dari latar raut muka berbagai bentuk manusia di masyarakat dan bangsa. Kultur peribahasa yang tepat pada pendekatan tersebut adalah "gajah mati meninggalkan tulang manusia mati meninggalkan nama". Mata hati kita terbentuk dengan tahapan yang di olah dengan sengaja ataupun mendekati yaitu kisah hidup kita akan berawal dari itu semua. Nama manusia terkenang saat dia telah tiada, saat hadir bersama kita semua yang ada hanya iri dan dengki serta aniaya. Akankah selama ini kita menyadarinya kalau kehidupan kita sudah semakin jauh dari kedekatan itu?. Yang ada adalah dengan berjalannya waktu kita sudah sangat jauh dalam warna silaturahmi dengan mereka semua. Dengan berbagai kesibukka ataupun memang enggan untuk kembali ke masa lalu. 

Tenggok sebuah istilah tersebut. Bahwa pada jaman yang serba uang sekarang ini, istilah tersebut sudah jauh dari renungan apalagi lirikan ataupun teguran. Saat bertemu mereka dahulu, jelas banyak sekali hal yang kurang menyenangkan terjadi. Umumnya kedekatan antara pelajar dan gurunya, antara santri dan ustadznya, antara umat dan mursyidnya adalah bentuk testimoni yang naik turun. Kedekatan mereka adalah saat bersama dalam ruang kelas, pendopo ataupun aula. Khusyuk mendengarkan yang diucapkan dan larut dalam sentuhan ilmu yang dalam (walaupun sesekali mereka mencibir dari belakang punggung) itulah seni mencari ilmu. Namun banyak sekali hal yang membuat kita pro dan kontra terhadap mereka semua, hanya karena sebuah aturan untuk patuh terhadap mereka. Kita sering mencemooh bahkan sampai sekarang masih terasa. Bahkan tak jarang kita selalu menghardik, membantah bahkan berduel dengan mereka. Pemandangan ini adalah bentuk ornamen masa dalam sebuah masa yang memang layak terjadi.
Kita sudah melepaskan masa demi masa tersebut. Sekarang kita telah dewasa, sudah mengerti akan pahit getirnya hidup. Kenyang akan semangat dan petuah, lahirlah kita sebagai manusia baru yang lepas dari pangkuan mereka. Akankah apa yang baik yang diutarakan mereka semua terbawa dalam sanubari setiap saat. Yang ada adalah jiwa kita yang semakin keropos dengan beranjaknya usia. Keropos dan miskin ilmu, karena hanya harta yang selalu menjadi tolak ukur sebab akibat dalam kehidupan kita sekarang. Beranggapan bahwa ilmu bisa terbeli dengan uang dan glamournya dollar dan lupa akan karakter kita yang ternyata masih stagnan sebagai seorang peserta didik/pelajar/santri. Kita maju empat langkah namun hakekatnya mundur ke belakang delapan langkah. Sekarang kita bergelimang harta sementara guru kita masih sederhana dalam hidup sehari-hari. Indah dipandang mata tak nyaman dirasakan mungkin ungkapan yang lebih tepat dalam lantunan syair yang sendu.
Semoga kita menjadi pribadi yang mudah memberikan ucapan terima kasih kepada siapapun yang telah memberikan warna ilmu dalam super ego kita sehingga menuntun langkah kita untuk menjadi manusia yang penuh kedewasaan. Guru kencing berdiri murid kencing berlari, sebuah istilah yang sering diplesetkan menjadi guru kencing berdiri murid mengencingi gurunya. Semoga amal kita semakin menumpuk dari dahulu sampai sekarang dan akan dinikmati menjadi keindahan oleh anak turun kita. Bahkan akan menjadi intan berlian dalam rahmat Allah SWT di akherat kelak.
Wallahu'alam Bishowwab. 
laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minalzhaalimiin
penulis,
Chie Zhoen

 
back to top