Sunday, June 8, 2014

Artikulasi pendidikan dalam ranah Output

Dalam banyak hal seringkali sebuah birokrasi pendidikan akan saling tumpang tindih kepentingan dengan berbagai tekad untuk sebuah kelangsungan ekosistem dalam institusi pendidikan tersebut. Mencermati akan hal itu banyak pro kontra yang saling berbenturan. Benturan yang akan membawa bagaimana wajah manusia dalam barisan, seperti barisan dalam shof sholat. Selayaknya sebuah sholat bagaimana Imam adalah seorang yang mempunyai karakter lebih dalam keilmuan dan kelayakannya dalam menjadi Imam. Sedangkan Makmum adalah gambaran berbagai ornamen bentuk karakter manusia yang kompleks. Makmum adalah jiwa yang selalu naik turun, bisa jadi saai ini kita dalam barisan shof terdepan, saat yang lain tergeser di barisan belakang jauh dari bisikan sang Imam dalam bacaannya. Setelah selesai sholat betaburan manusia dalam koridornya sendiri-sendiri, yang menjadi pedagang akan kembali dalam aktifitas bergulat dengan ekosistemnya, yang menjadi pelajar kembali dalam bentuk pertarungan kantuk dalam ruang kelas. Dan masih banyak aktifitas yang lainnya dalam bentuk nilai dan falsafah hidupnya masing-masing.

Seperti halnya dalam rumah yang namanya institusi sekolah. Sebuah sekolah yang terbaik adalah sekolah yang mampu memberikan nilai tebal fatwa dalam pribadi peserta didik pada kurun waktu yang panjang. Sebuah sekolah adalah rumah yang menjadikan semua peserta didik bangga telah bisa bersekolah di dalammnya. Sekolah yang maju adalah sekolah yang memberikan pelayanan terbaik dan jujur, bukan hanya slogan dan banner. Sekolah yang Islami adalah sebuah sekolah yang memberikan adab yang kontinue membentuk figur peserta didik seperti aliran air dalam Islam. Sekolah yang sejuk adalah sebuah sekolah yang memberikan penghuni sekolah rasa nyaman dan kondusif walaupun berbagai karakter di dalamnya. Sudahkah nilai ini dipelajari dengan baik dalam kesadaran bersama semua penghuni sekolah? Jawablah dengan kejujuran yang sebenarnya wahai pembuat kebijakan sekolah.
Yang terjadi dalam komunitas sekolah adalah saling mencari aib dan kesalahan setiap penghuni sekolah karena itulah menunjukkan watak sekolah itu sendiri. Bagaimana karakter itu akan hilang dan terjual menjadi sebuah sekolah yang di idam-idamkan semua orang dan tentunya wali murid serta masyarakat sekitar. Jawabnya adalah menjadi pribadi yang berbeda dalam mengasuh peserta didik dalam setiap dekade. Seperti halnya bagaimana kita di asuh oleh orang tua kita sendiri, tentunya keberhasilan orangtua telah mengasuh kita akan menjadi tolak ukurnya, tetapi letak ketidakberhasilan orang tua kita dalam mengasuh beberapa karakter kita apakah akan kita samakan pola asuh tersebut seterusnya kepada anak kita sendiri?
Buah yang jatuh dari pohonnya banyak sekali yang menggelinding jauh bahkan menyeberang jalan, seperti halnya mencari seorang pendamping hidup. Kalau mau mencari pendamping hidup bercerminlah pada orang tuanya. Kalau mau memilih 'wanita idaman' lihatlah bagaimana Ibunya, sebaliknya bila mau memilih seorang ksatria sejati sebagai pendamping hidup lihatlah pula orang tuanya yaitu bapaknya. Inilah sebuah filosofi hidup yang sering digaungkan oleh Ulama namun kerapkali susah untuk dilakukan karena hati yang berbicara alias 'Love'.
Sekolah akan tumbuh menjadi simpati masyarakat dengan sendirinya apabila dalam mengelolanya penuh dengan kejujuran kepada peserta didik dan orangtuanya. Itu adalah kunci sebuah OUTPUT terbaik pada sebuah institusi sekolah
Marilah jika kita berjuang atas nama sebuah institusi sekolah, letakkan ego masing-masing kembali pada tujuan yang mulia yaitu mendidik. Mendidik untuk menemukan sebuah tolak ukur ilmu bukan tolak ukur LULUS dan KERJA semata.
Manusia hanyalah bisa berusaha sepenuhnya adalah rahasia Allah SWT, semoga kita mampu bersabar dalam ketidakberdayaan kita menjadi manusia yang baik.
Wallahu'alam Bishowwab.
penulis,
Chie Zhoen
pengajar di SMK Muhammadiyah Sampang

Monday, June 2, 2014

Nina Bobo

Ayunan telah lama berjalan, naik dan turun sepanjang hentakan tangan sang bunda. Sambil terantuk wajah sang ibu memerah namun tetap terjaga sambil menahan dahaga. Sesekali tangannya menyibakkan tirai ayunan saat nyamuk datang hinggap tak karuan. "Ibu, anakmu telah tertidur", bisik sebuah suara lirih di telinga. Tersentak sang ibu karena tak terasa satu pejaman mata telah mendengar bisikan indah entah darimana. Sang ibu menengadah, ya rabb ampunkan hambaMu ini, yang terlelap menjaga hatiku ini. Sambil menahan tetesan keringat, tak terasa airmata bunda telah meleleh bertepi dalam kelopak matanya, jatuh ke telapak tangan bunda. lepas menyentuh lantai. Ibu yang sabar tersadar dan kembali beranjak menahan kantuknya menemani buah hati yang tercinta.

Gelisah, lelah dan gundah adalah gambaran seorang ibu yang selalu setia menemani setiap anak-anaknya, dalam tumbuh kembang sang anak selalu dalam dekapan mesra sang bunda. Seluruh jiwa dan raga adalah tangan sang anak untuk jalan menapaki tangga yang licin, berkelok dan menanjak. Tumbuhlah sang anak sebagai buah hati yang penuh dengan asa dan semangat tetap tegar karena selalu bersama mereka sang buah hati penyejuk hati bunda. Segala kesedihan, semua kegalauan, semua kepiluan tertutup oleh tangisan anak buah cintanya.
Adakah manusia yang terlena mendengar tangisan buah hati tercinta. Adalah tiada daya dan upaya tatkala kita melupakan tangisan anak kita. Adalah dalam diri kita telah terjadi sengketa dalam hati yang terbersit oleh luka, luka demi luka yang terus membara entah kapan akan sirna. Muncullah menjadi bunga rampai kepedihan yang menyayat dalam kalbu dan melahirkan empati yang musnah dalam jiwa, raga dan hati. Lahirlah sumbu hati dalam fikir yang diam, diam dalam mencari indahnya cinta, diam dalam dekapan sang rembulan bahkan mati dalam sentuhan matahari.
Nina bobo, adalah jawaban atas itu semua. Jikalau nafas telah tertutup oleh sekam yang kuat memenuhi kelima indera kita. Niscaya cahaya buah hati tertutup dan samar. Namun bila hati yang gundah berganti dengan dawai asmara dan cinta yang membahana kembali. Sekam yang menutup indera kita akan kembali sirna dengan desir tangisan buah hati kita tercinta.
"Bobolah anakku semoga hidupmu akan indah kelak dalam pelukan sang bunda", bisik sang Ibunda tercinta. Tak terasa airmata meleleh di pipi bunda.
Manusia adalah sebuah ornamen antara jiwa, raga, hati dan ruh. Bagaimana akan menjadi manusia yang sempurna bila hidup mereka tidak pernah kenyang dengan dahaga dalam derita. Semoga dada kita selalu terisi dengan kalimat_Mu. Untuk menyembah_Mu sepanjang daya hidup ini.
Wallahu'alam Bishowwab.

Illahi anta maqsudi, waridhoka matlubi, a'tini mahabbataka wa ma'rifataka

penulis,
Chie Zhoen

 
back to top