Saturday, February 26, 2011

KILAS BALIK SMM ISO 9001:2008 ANTARA KEPENTINGAN DAN KEBUTUHAN

Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 keluaran TUV Genewa, Swiss adalah standart yang menerapkan aturan yang jelas akan sebuah mutu institusi ataupun perusahaan. Dalam perkembangannya sudah mengalami banyak revisi disesuaikan dengan bidang garapnya. Lembaga kelahiran LSM ini mempunyai tujuan menjadi acuan atau hukum untuk memaksimalkan kualitas sebuah lembaga, institusi, industri dll. Pada prinsipnya adalah persamaan persepsi sebuah aturan yang baik untuk menjaga kualitas atau muju dari pelayanan terhadap publik atau pelanggan. Berbicara banyak tentang ini semua akan terbentur dengan kemampuan institusi atau lembaga masing-masing. Mampukah menjadi publik figur atau akan menjadi senjata untuk mengeluarkan hal-hal yang menguntungkan untuk tarik ulur kepentingan. Imbas yang terjadi adalah berangkat dari aturan yang mengikat yang ingin melakukan binaan walaupun sifatnya sebuah proyek. 

Ada hal yang sangat mendasar tentang hal tersebut, yaitu kebersamaan. Mungkin akan kaku kelihatannya saat itu diluncurkan, karena akan mengalami tarik ulur kepentingan dan kebiasaan.  Akan susah membuat dan memproduksi aturan baru khususnya dalam dunia pembelajaran. Kita semua sudah paham akan situasi keadaan pendidikan di Indonesia. Bahwa pendidikan selama ini sudah sangat pesat, namun dari segi kesesuaian dengan iklim yang ada di masyarakat sekitarnya belumlah dikatakan berhasil. Karena kualitas masyarakat kita gampang diombang ambingkan oleh hal-hal yang baru. Teknologi dan informasi selalu mau kedepan di akses tapi untuk mentaati aturan jauh dari kenyataannya. Banyak komunitas masyarakat kita pada jeli menaggapi permasalahan namun kurang bisa menyelesaikan masalah, justru memperuncing masalah akhirnya saling menyanjung dan pro kontra figur atau sesuatu hal.

Tingkat kecerdasan masyarakat semakin meningkat dan luas. Generasi pembelajaran juga sudah termakan oleh gejala diserosi kebudayaan. Terbosan baru memang sangat diperlukan, namun mungkin alangkah baiknya apabila semuanya dimodifikasi. Mungkin apa yang tidak mungkin bagi orang Indonesia, semua dicuri dari uang rakyat sampai teknologi, karena kualitas nilai tukar rupiah yang rendah dan pemenuhan kebutuhan yang semakin meningkat. Lebih fatalnya lagi orang kita lebih suka membeli daripada membuat atau memperbaiki, yach mungkin wajah dari kolonial yang menanamkannya. 

SMM ISO di Sekolah adalah gerakan yang baik untuk menerjemahkan sebuah kualitas peserta didik yang akan selalu menjadi kebanggan bersama karena akan melahirkan sebuah generasi penerus yang berkualitas. Namun perlu disikapi bahwa muncul standart kualitas di sekolah berbeda dengan standart kualitas di perusahaan yang berhubungan dengan produk, karena disini yang terjadi keluarannya adalah pelanggan atau siswa. 

Pertanyaannya yaitu siapkah sebuah lembaga pendidikan merubah tentang persepsi menguntungkan untuk kurun waktu sejenak. Melepaskan untung dan rugi, melepaskan like and dislike, menerapkan ambisi dan finansial. Apalagi sebuah lembaga pendidikan swasta. Berdeda dengan sebuah lembaga pendidikan atau sekolah negeri. Dari segi semuanya jelas diatur oleh kebijakkan pemerintah, semakin pesat dan maju sekolah negeri tetap akan mempunyai nama besar ditambah sebuah kualitas mutu manajemen. Pro dan kontra selalu hadir, yang lebih pasti mau dikemanakan peserta didik kita setelah sebuah sekolah menerapkan Sistem Manajemen ISO dicanangkan. Dan mau bagaimanakah nilai reward yang akan dibangun untuk pelaku pendidikan/pengajar dan karyawannya. Disinilah akan muncul keraguan bersama saat antara keadaan dengan penghargaan kurang seimbang. Kalau lembaga negeri jelas bahwa mereka adalah tenaga sipil pemerintah yang sudah mempunyai finansial yang diatur dalam undang-undang. Bagaimana dengan sekolah swasta, apakah akan cuma sebatas melaksanakan tugas namun tetap jauh dari penghargaan secara finansial. Ini adalah urusan akherat dimana semuanya akan dipertanggungjawabkan apabila sebuah lembaga mempunyai 'rakyat'. Seperti seorang pemimpin yang akan tetap diminta pertanggungjawabannya di akherat tentang kepemimpinannya.

Klausul SMM ISO 9001:2008 adalah patokan yang harus dijalani untuk kesuksesan standart ini. Mau ataupun tidak hal tersebut akan jadi sebuah kebiasaan yang dipaksakan. Dipaksakan atau tidak semua akan kembali kepada kebiasaan semula sebuah lembaga sekolah tersebut. Kebiasaannya saling tukar kepentingan, lepas tanggungjawab, saling audit dan melemparkan pekerjaan akan terjadi saat sesuatunya sudah penat. Akhirnya antara kerja dan lelah jadi satu menjadi bumerang, belum lagi si Upin di rumah yang menunggu bakso dari orangtuanya. Kembalilah kepada semuanya apabila lembaganya up to date terhadap rakyatnya, jelas akan meninggalkan senyuman. Namun apabila tetap sama jelas akan meninggalkan luka demi luka. Yang sudah terperas keringatnya segara diganti yang baru. Datang silih berganti dan jadi sebuah istilah.

Ada aturan dasar atau klausul demi suksesnya ISO yaitu :
1. Ruang lingkup
2. Referensi normatif
3. Terminologi dan definisi
4. SMM
5. Tanggungjawab manajemen
6. Manajemen SDM
7. Realisasi produk
8. Pengukuran, analisis dan pengembangan

Tips dan triknya adalah :
1. Ada dana
2. Ada kerja
3. Ada reward
4. Ada hati nurani

Selanjutnya tinggal menunggu keajaiban, apakah sekolah tersebut tetap eksis selama kurun waktu 10 tahun kedepan atau sebaliknya. Inilah sebuah rujukan yang baik untuk jadi kebiasaan yang membangun. Memang modalnya tidak sedikit dan banyak korban di dalamnya. Yang jelas pandailah menjadi institusi yang stabil, stabil memberi makan rakyatnya, stabil terhadap kebijakan-kebijakannya. Terus yang utama adalah pelanggan atau peserta didik, jikalau semuanya sudah tertata rapi. Yang menjadi ganjalan selanjutnya adalah kebiasaan kita untuk istiqomah mendidik. Karena setelah itu kita akan disibukkan dengan berbagai macam kesenangan, kesenangan mendapat bantuan, kesenangan 'jabatan dan gengsi'. 

Marilah menjadi pribadi yang baik, yang sama antara hati dan ucapannya. Komitment terhadap aturan yang telah disepakati. Bukannya otoriter terhadap kepuasan pribadi, melepaskan ambisi dan kesenangan, yang tidak suka minggir yang suka tetap bergabung. Melupakan tujuan utama yaitu peserta didik. Karena sudah banyak buktinya bahwa semua itu tidak akan bertahan lama. Hanya simbolis. Punya uang ada ISO atau 'bendera'.
ghostnaruto@gmail.com


Jika menurut sobat artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

0 komentar:

Beri Komentar

 
back to top