Wednesday, March 20, 2013

Wacana dalam Memotivasi Anak

Sejenak alam bawah sadar kita kembali merenung. Kita akan mengungkapkan falsafah hidup kenapa manusia sangat dekat dengan Allah SWT namun melupakan semua kenikmatannya secara sportif dan lupa menunduk di hadapan manusia yang lain. Mengapa penulis ungkapkan hal demikian, karena sudah saatnya penulis menuangkan dehidrasi dari akar permasalahan kenapa manusia saling tidak bertegur sapa dan enggap bertatap muka. Banyak yang beranggapan apa yang kita nikmati sepenuhnya usaha dan kerja keras tanpa mengenal lelah, jujur dan bersih. Seolah tak ada duri yang tertinggal dalam setiap pencapaian sebuah keberhasilan dalam menggapai semua hal yang membuat kenikmatan dunia semakin hidup ("katanya"). Dengan uang dan kemewahan misalnya, semua bisa dibeli seperti membeli krupuk lengkap dengan toples-toplesnya. Nilai krusial yang terbentuk adalah sebuah kualitas eksistensi akal dan budi yang akan berjalan beriringan atau bertolak belakang. Inilah yang menjadikan setiap manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya menengadahkan wajah enggan bertegur sapa dan eksentrik serta egois. Hingga semakin hari budaya dan penyakit hati semakin bersarang muncullah sebuah kesombongan.

Apa sebenarnya yang menyebabkan kesuksesan akan berujung nestapa dalam alam yang berbeda? Setiap manusia akan mengalami sebuah fase yang membedakan prinsip, keinginan dan perubahan akhlak. Manusia akan berubah prinsipnya manakala dia sudah lelah dengan kegagalan dalam mempertahankan prinsip karena justru prinsipnya melemahkan kelemahan dan tidak bisa menutupi kelemahannya itu. Keinginan yang sering tercapai justru membuat rasa tidak percaya bilamana sering bertentangan dengan hati nurani. Perubahan akhlak terbentuk karena prinsip dan kenyataan yang membuat jiwa kurang puas dan resah. Setelah ditelaah dengan arif sampailah sebuah nilai kesimpulan adanya sebab akibat. Sebab yang membuat keyakinan iman dan amaliah kita luntur ibarat debu yang berterbangan, ibarat air mendidih dan menguap habis. Akibat yang menimbulkan tanda tanya besar kenapa hidup jauh dari tentram dan nikmat (kalau mau jujur tentunya).

Adanya itu semua karena jiwa dan nurani kita hampa akan semangat menumbuhkan kenikmatan hidup. Nikmat telah menjadi kaya, nikmat telah tinggi ilmunya, nikmat dalam kesejahteraan keluarga, nikmat dalam bernafas menghirup harta benda kita dalam selimut yang hangat. Akhirnya kita lupa tidak bisa mewariskan sebuah pola fikir terhadap anak buah hati kita. Mewariskan sebuah hati agar tetap beriman dan menjadi anak sholeh yang akan menolong dalam kesesatan di alam keabadian kelak. Apa yang menjadi jawaban itu semua?
Marilah kita menengok sejenak sebuah contoh dalam Al Qur'an. Dimana Allah SWT menggambarkan sebuah mata rantai kemulyaan dan kedamaian untuk penduduk bumi menjelang panggilan dan tabungan menuju surgaNya. Kuncinya adalah Allah SWT mewasiatkan kepada Lukman supaya mampu bersyukur untuk sebuah kesempurnaan dan kemulyaan manusia. Nilai syukur ini telah berbuah sebuah kematangan menerima kenikmatan syurga secara total. Sampailah Lukman mewasiatkan kepada anak-anaknya supaya menanamkan kebaikan, walaupun kebaikan itu sebesar biji sawi sekalipun terbenam dalam batu atau di langit atau di bumi. Lukman mampu menegaskan untuk selalu mendekat dengan Allah SWT dengan sholatnya, mengerjakan hal-hal baik dan mencegah yang mungkar, bersabar terhadap sebuah cobaan Allah. Lukman mampu mengingatkan supaya tidak berlaku sombong terhadap sesama, mewasiatkan kesederhaan dalam tutur kata dan tingkah laku. Dan dengan tegas Lukman mewasiatkan agar jangan sekali-kali menyekutukan Allah SWT dengan apapun karena sebuah kezaliman yang besar.
Bagaimana sebuah wasiat yang dengan gamblang dipaparkan karena dalam jiwa Lukman sudah penuh dengan rasa syukur atas semua anugrah Allah SWT sehingga mata kakinya mampu melihat surga-Nya walaupun masih hidup dalam dunia yang fana.
Arti penting inilah yang seharusnya diwariskan dan ditanamkan untuk menumbuhkan sebuah kontruksi jiwa dan semangat dalam mendidik anak sebagai amanah sekaligus buah hati penerus keturunan.
Maksudnya bagaimana pola asuh dalam mendidik anak dan mengembangkan pola fikir peserta didik selaku pengajar misalnya mampu meluruskan akal budi yang menyimpang dari jalur empati dan amal sholeh serta tabungan amal yang abadi. Yaitu dengan cara memutar dan menggodog super ego mereka supaya mau merenung dan membuat perubahan secara drastis dalam hitungan waktu yang pendek membuahkan perubahan akhlak dan perangainya. Memberikan sebab akibat bagaimana jikalau nasi sudah menjadi bubur atau sebaliknya nasi mau dijadikan semangkuk bubur. Hingga sebuah contoh tidak perlu di contohkan karena sudah membentuk perubahan berbeda pada diri semangat hidup anak menemukan jati dirinya.
Jawaban ke depan itu semua kembali kepada maqom kita, apakah kita siap menjadi orang tua yang baik, apakah kita siap menjadi orang tua yang jujur, apakah kita siap menjadi anak kecil setelah anak-anak kita tumbuh dewasa yaitu memberikan tanggungjawab penuh dengan ide-ide mereka. Kesemuanya tergantung warna aura kita, mampukah wajah yang sangar mengeluarkan aura yang sejuk. Mampukah kita dzikrullah dengan hati bergetar walaupun harta menumpuk dalam pundak.
Wallahu'alam Bishowwab.
Illahi anta maqsudi, waridhoka matlubi, a'tini mahabbataka wa ma'rifataka
 
Penulis,
Chie Zhoen

No comments:

Post a Comment

 
back to top