Tuesday, April 2, 2013

Kata kunci "Kesungguhanmu hari ini Rizkimu Hari ini dan Esok hari"... ?

Kalau di telaah arti kata tersebut sangat jelas kalau maksud dari ornamen kata dalam rencana sebuah workshop oleh lembaga pendidikan mengarah sebuah kultur politis seseorang. Bagaimana sebuah ornamen kata sederhana yang akan dijabarkan dalam nuansa kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual adalah gambaran dari kegagalan dalam sebuah sistem yang menganut ajaran spiritual modern yaitu perpaduan antara jaman rasulullah dan kembali ke jaman jahiliyah yaitu modernisasi teknologi. Sebuah perpaduan yang bertolak belakang akan melahirkan takabur atau sombong. Ingat sebuah kesombongan adalah kumpulan dari sekecil biji sawi yang akan melahirkan kemerosotan pandangan dan dehidrasi antara kezuhudan dan kedonis serta kemewahan. Setiap manusia yang mencari sesuap nasi adalah gambaran manusia yang sudah mengenal Tuhannya (entah Tuhan siapa maksudnya). Namun Rizki adalah rahasia Allah SWT, kapanpun dimanapun dan bagaimanapun jikalau Allah SWT menghendaki rezki itu akan datang tiba-tiba, ibarat kata-kata seseorang yang menyakitkan akan diterima hati yang disakiti menjadi doa untuk membalikkan rezki dan kebahagiaan orang tersebut. Pertanyaan yang menjadi keterbalikkan maksud tersebut adalah apa yang menyebabkan manusia bisa bertahan hidup?
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun banyak manusia yang menyalahkan siapa yang telah memberikan kesempatan menjadi yang terbaik, apakah diri sendiri pastinya bukan. Dalam sebuah sistem pasti ada seseorang yang berani angkat senjata untuk sebuah kemajuan dan bukan hanya berembel-embel hanya untuk sesuap nasi atau rejeki. Justru yang lebih besar adalah bagaimana untuk kelangsungan sistem tersebut agar tetap bisa memberikan rejeki bagi orang banyak. Normalisasi keadaan ini adalah bagaimana bisa menghargai sebuah perjuangan dan pergorbanan seseorang di atas kemegahan orang lain. Bisa menghargai keluh kesah orang lain bukannya menjadi jamur yang akan menggerogoti sebuah kemegahan sistem demi satu butir nasi di atas tumpukan emas yang berkilauan. Kesombongan manusia akan berakhir manakala ujung tenggorokan tidak bisa merasakan segarnya air minum, tidak bisa merasakan nikmatnya nasi masuk dalam mulut dan tidak bisa merasakan sujud menghadap Illahi. Dikotomi inilah yang menyesatkan manusia hingga manusia terjun dalam watak dan prinsip yang selalu ingin lebih di atas orang lain. Hingga yang muncul kegagalan dalam memoles akhlak yang akhirnya ditinggalkan Allah SWT dalam gelapnya malam dengan harapan yang selalu kosong. (Bahasa lugasnya maksudnya siapa yang bisa bertahan hidup tanpa uang di jaman modern ini, walaupun ulama sekalipun. Namun nilai materiil adalah ujung tombak dan tolak ukur yang akan membedakan siapa manusia yang sabar dan siapa manusia yang serakah dihadapan Allah SWT. Serakah dalam melihat sisi psikologis diri sendiri dan serakah dalam memandang orang lain, bahwa orang lain juga sama diberikan hak hidup oleh Allah SWT dengan jalanNya. Berakhirlah dalam menyombongkan diri sebelum Allah menegurnya).
Rizki hari ini, esok dan lusa adalah rahasia Allah SWT. Marilah saling menjaga silaturahim yang pantas bukannya saling menyibir karena sebuah kedzaliman. Kemunafikan seseorang lahir karena ada kemewahan yang selalu hadir dalam koridor rizki dan amal sholeh. Allah SWT tidak akan menipu manusia bumi yang ada adalah setiap dari kita lupa dalam garis lurus antara bibir dan hati. Ingatlah! Setiap dari kita tidak akan sama ujian yang embankan oleh Allah SWT, setiap ujian sudah pada tempat dan kemampuan masing-masing. Dia tidak akan menguji di atas kemampuan yang di ujinya. Jawabnya tingkatan bersyukur tidaklah akan sama ibarat si kaya menaruh uang 1M pada kotak amal dan uang seribu oleh si miskin masuk kotak amal yang sebenarnya keterbalikkan adalah segunung emas di surga dan sebiji kurma batu dalam akherat.
CZ

Jika menurut sobat artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

0 komentar:

Beri Komentar

 
back to top