Thursday, June 20, 2013

Cermin Pendidikan

Mengolah sebuah iklim di institusi sekolah adalah pekerjaan yang tidak semudah antara berbagai teori dan segudang pengalaman untuk mewujudkannya, tanpa disejajarkan antara action yang berkesinambungan dan berhati nurani. Semuanya melewati batasan dimana antara hak dan kewajiban adalah perubahan yang mengarah berbanding lurus dalam sejajaran. Nilai illahiyah adalah jembatan menuju hal yang lebih kompleks namun sering nilai ini menjadi bahan pertama yang di kedepannya untuk sebuah kemajuan sekolah. Nilai kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas sering digaungkan untuk menuangkan motivasi yang justru akan melahirkan pertanyaan demi pertanyaan yang melunturkan sebuah perjuangan. Dalam Sistem Manajemen Mutu sebuah institusi akan mengalami uji material secara kontinue yang semuanya ditekankan adanya sebab akibat yang terus berkembang. Sistem ini akan menilai dengan sendirinya bagamaina kesiapan sebuah sekolah menjawab akan tantangan dan tuntutan pelanggan. Seberapa puaskah pelanggan akan pelayanan kita? Jawabnya pasti akan mengalami pasang surut, namun bila setiap lini sistem bisa berjalan sesuai koridor kesepakatan semula dalam Manajemen Mutur yang dilontarkan bersama bukan tidak mungkin sebuah kemajuan akan berjalan mengalir seperti air tanpa hambatan. Bagaimana semua akan terwujud? Marilah bersama saling menghadap cermin.

Pertama, adalah sebuah peta peserta didik (pelanggan). Peserta didik yaitu audiens yang berada dalam lingkup kegiatan pembelajaran yang akan menerima sebuah perubahan dalam dirinya untuk menemukan hal baru yang akan menaikkan kognisi, afeksi maupun psikomotorik mereka secara kontinue. Kedua, pendidik dan tenaga kependidikan yaitu alat dalam bentuk manusia yang akan berkomunikasi kepada pelanggan (peserta didik) tentang apa yang akan kita lakukan untuk menumbuhkan wawasan baru dan kekajuan baru dalam berperilaku secara intelektual. Ketiga, Sarana Prasarana dan Penyelengara Pendidikan adalah wahana untuk sebuah kemajuan dalam tujuan pendidikan yang sebenarnya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Keempat, Pemerintah dan masyakat adalah opini yang akan menilai kemajuan dalam skala perkembangan dalam sebauh institusi maupun suatu tempat.

Dimanakah letak pendidikan yang sebenarnya?. Pendidikan pada hakekatnya adalah menuangkan citra positif dalam sebuah perubahan pola fikir, sikap dan intelektual untuk sebuah wadah yang akan siap meneruskan jatidirnya menuju sebuah kematangan dan kemajuan. Semoga apa yang kita fikirkan dan apa yang kita cita-citakan bukanlah gambaran kosong dan kesenangan sesaat untuk kemashuran belaka namun letak pendidikan yang sebenarnya adalah menumbuhkan rasa empati untuk selalu menanamkan semangat menjadi pribadi yang baik dalam setiap saat. 
Banyak sekali dijumpai berbagai institusi sekolah berlomba-lomba untuk anak didik mereka mencapai sebuah prestasi dan juara. Dengan kerja yang sangat keras untuk sebuah nama besar dan kemashuran belaka, namun apa yang di dapat di kemudian hari. Masih banyak dijumpai dalam keseharian meraka lemah sekali komunikasi antara ekosistem di sekolah. Satu dua orang yang berprestasi, seribu teman-teman mereka tawuran di jalan meresahkan masyarakat. Apakah ini yang dinamakan sebuah nama besar dan kemajuan. Sekolah ataupun institusi yang besar adalah bagaimana lembaga tersebut memberikan kontribusi menyeluruh kepada pelanggan dan memberikan skor yang baik dalam kepuasan pelanggan bukannya nama besar siswa/peserta didik yang disoroti namun mencakup semua kehidupan dalam sebuah lembaga yang lebih konkrit.
Nilai juang peserta didik adalah gambaran bagaimana pendidik dan tenaga kependidikan telah memberikan argumen yang terbaik terhadap perkembangan mereka. Dan semua itu adalah jasa besar seorang pendidik untuk menuangkan ide dan kreatifitasnya demi kemajuan anak didik mereka. Reward adalah jawaban terbaik atas semua jerih payah selama ini, bukannya cemoohan, ejekan bahkan kurangnya kepuasan atas pelayanan mereka kepada sekolah oleh penyelenggara pendidikan tersebut. 
Sementara di alam bebas (kehidupan nyata), bagaimana selepas sekolah susah payah mencari pekerjaan dengan bekal ijasah sekolah ternama, sementara semua akan berpaling kepada nasib. Setelah mengenyam pendidikan dan pelatihan sampailah menjadi jatidiri bagaimana bang sekolah adalah ladang yang gersang yang melahirkan semangat yang loyo di alam bebas, dengan tidak mampu berkompetisi menjadi pribadi yang kuat. Semoga ini menjadi bahan renungan bahwa mendidik adalah tindakan yang berkesinambungan tidak mengenal PETA peserta didik dan kesiapan untuk selalu menjadi lilin yang akan menerangi peserta didik dengan baik.
Semoga menjadi pribadi yang selalu sabar dalam mendidik anak, karena jiwa seorang pendidik adalah sebuah jiwa yang selalu tenang dalam menjalani statusnya yang naik dan turun. Semoga balasan amal sholeh tetap menjadi lilin yang membawa penerang menuju surga Allah, Amiin.
Wallahu'alam Bishowwab.
 penulis,
chiezhoen

No comments:

Post a Comment

 
back to top