Monday, September 12, 2011

Begadang di Dunia

Saat terbenam matahari seringkali kita lupa. Lupa apakah yang kita fikirkan? Lupa karena keletihan kita selama seharian melakukan aktifitas mencari nafkah, mencari kesenangan dengan berbagai hobi dan segala hal yang membuat hati dan fikiran tentram. Sejauh manakah ketentraman hati ini?. Jawaban inilah yang difikirkan banyak kalangan dalam berbagai nara sumber dan disiplin keilmuan. Jawaban yang dilontarkan manusia akan tidak sama manakala semua mengalami perbedaan situasi dan kondisi. Bahkan walaupun selalu bersama seiring sejalan dalam sebuah komunitas bersama belum tentu akan melahirkan persepsi yang sama. Semua akan kembali kepada kualitas kelimuan kita sebagai hamba yang sholeh. Sholeh dalam setiap mempelajari hidup dan sholeh terhadap lingkungan dan persahabatan. Banyak naluri yang salah kaprah alias jauh dari sifat asih, saat sebuah benturan kepentingan ada dan muncul untuk menilai dan menjatuhkan karakter seseorang. Bahwa dalam hati seorang hamba sudah tertanam sebuah penyakit ubuddunya (selalu dan terjerat oleh keindahan dan kemolekan tubuh dunia). Sehingga nilai ukhuwah (silaturahmi) menjadi buah bibir dan melupakan silaturahmi adalah akan membuahkan hati semakin keras bila muncul isapan demi isapan karakter seorang figur.

Mungkin aneh kedengaran di telinga saat kita kembali fitroh, muncul sebuah pelajaran yang berharga dari sebuah perjalanan hidup. Yang lebih aneh lagi saat sebuah pikiran kita telah lelah dengan kemunafikan dalam sebuah ekosistem. Yang muncul dalam super ego kita adalah sifat yang asing dalam memberikan kualitas kebaikan dalam hati kita. Contoh konkrit, saat kita menggunjing sesama adalah sebuah perlawanan dalam hati kita untuk tidak berlaku adil terhadap siapa yang terbicarakan?. Semua hanya ilusi dan selanjutnya akan tergantung pada pribadi masing-masing untuk mewujudkan kebaikan pada pribadi kita sendiri.
Akal dan fikiran yang selalu berkecamuk akan selalu tertutup awan jika harga diri kita karena maqom, jabatan, kesuksesan dan kejayaan selalu dikedepankan dalam semua sisi. Dalam pandangan Allah manusia yang sholeh adalah yang selalu ikhlas dalam menjadi figur yang sederhana dan jujur. Sederhana dalam bertutur kata, sederhana dalam menilai sesama, sederhana dalam bersosialisasi. Jujur dalam mencari keridhaan_Nya, jujur terhadap hati nurani dan jujur sebagai pribadi yang santun. Semua ibadah, amaliah, silaturahmi dan segala tipu daya manusia oleh syethan akan dinilai Allah dan manusia tidak bisa menimbang dan meminta penilaian terhadap sesama. Apalagi manusia menilai satu dengan yang lainnya dengan ibadahnya. Apakah anda tahu siapa yang arif di antaramu. Hanya Allah SWT dan diri sendiri yang tahu.
Di sinilah makna sebuah silaturahmi yang kurang menghasilkan kemanfaatan dan akhirnya melahirkan sebuah kemudhorotan akhlak dan keimanan. Berharap akan mendapat pahala yang melimpah, rejeki yang banyak dan segudang kenikmatan dengan silaturahmi. Malah melahirkan hati semakin gundah akan kenikmatan Allah SWT. Sebuah ketentraman kehidupan bukan terletak pada nikmatnya mempunyai fasilitas pribadi yang glaumor, namun adalah kenikmatan menjadi pribadi sholeh yang bisa memberi rasa aman terhadap sesama.
Wallahu'alam bishowwab.
by Crowja Garichu

No comments:

Post a Comment

 
back to top