Thursday, January 13, 2011

Mengenang Pendidikan Nasional

Sebuah peradaban umat manusia di bumi selalu datang silih berganti, dari jaman manusia pertama Adam sudah mengalami banyak perubahan, dari jaman batu sampai jaman mesin seperti sekarang ini manusia sudah mengalami berbagai macam hal yang luar biasa. Sudah trilyunan manusia hidup dan mati di bumi ini, baik itu mati karena usia, penyakit, bencana maupun tewas mengenaskan akibat perang. Yang manusia biasa, nabi, rosul, pemimpin bangsa. Dari yang alim dan bejat, dari rakyat jelata sampai raja dan presiden, sudah hadir mengisi bangsa-bangsa di semua benua seantero jagat ini. Dari perang di jaman nabi-nabi, perang salib sampai perang Dunia manusia telah mengalami pahit getirnya perkembangan budaya dan kemajuannya di semua bidang, sehingga setelah lelah berperang mereka kembali diam, meneruskan keturunan bangsanya sendiri-sendiri. Memajukan ambisi bangsanya dengan tetap menjajah, tetapi dengan perubahan strategi dan yang dicekoki adalah penjajahan lewat dunia ilmu dan pengetahuan. Adakah dari mereka yang bisa mengartikan kehidupan ini??. Jawabnya adalah hidup di dunia adalah penantian dari ajal yang akan datang setiap saat. Maju dan pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi jawabnya tetap sama yaitu apabila ilmu sudah dibuka selebar-lebarnya adalah kehancuran yang akan datang.

Di berbagai belahan benua manusia mengembangkan peradabannya untuk bisa meraih majunya ilmu dan pengetahuan, meraih kejayaan bangsanya sendiri dari bangsa lain dengan cara perang meluaskan daerahnya dengan darah dan pengorbanan budaya untuk ambisi bangsa. Dari mencuri pengetahuan sampai mencuri budaya bangsa dilakukan untuk kemajuan ilmu dan pengetahuan serta ekonomi demi kemaslahatan bangsanya sendiri, menjajah seenaknya sendiri tidak kenal hak asasi manusia merampok kebebasan manusia, kebebasan hidup, kebebasan berfikir dan kebebasan bersuara serta kebebasan berkarya. Contoh konkritnya adalah bangsa Indonesia. Bangsa kita terkenal karena “kebodohannya”. Terkenal karena kayanya bumi yang ada di Indonesia. Saat itu Indonesia kaya akan tambangnya, kaya akan hasil bumi, kaya akan masyarakatnya (sukunya) yang mudah di adu domba hingga sampai saat ini. Semua sektor sudah merakyat dari yang riil sampai yang non riil atau berbau supranatural semua diperdagangkan. Semua bisa dijual dengan nikmatnya.


Kita perhatikan perjalanan bangsa ini dari dekade demi dekade, awalnya adalah berangkat dari jaman kerajaan. Dengan kejayaan jaman Majapahit sehingga wilayah nusantara bisa mencapai Kamboja, Laos, dan sebagian Asia Tenggara. Saat itu dengan tangan Mahapatih Gajah Mada bumi nusantara telah mencapai jaman keemasannya. Dengan kekuatan sebuah kerajaan bisa menyatukan seluruh nusantara dalam satu komando raja Hayam Wuruk. Sungguh sebuah pemandangan yang luar biasa pada jamannya. Kemudian datang kerajaan-kerajaan Islam masuk ke Indonesia, mengganti dan menyatukan budaya dalam satu kekuatan agama yaitu Islam. Pada masa itu bermunculan para saudagar-saudagar dari wilayah lain ikut memakmurkan bangsa ini, memajukan dalam bisnis dan perdagangan. Hingga datanglah sebuah era dimana kemajuan ilmu dan pengetahuan semakin luas, sehingga negara-negara yang mampu dalam ilmu dan teknologi mengembangkan sayapnya meluaskan wilayah jajahannya untuk kemakmuran mereka sampailah bangsa Portugis, Inggris dan Belanda ke Indonesia. Hingga terakhir Belanda menguasai seluruh wilayah nusantara. Saat itu bermuncullah semangat kebangsaan untuk mengusir para penjajah. Muncullah gerakan-gerakan kebebasan atau kemerdekaan bangsa digembar gemborkan oleh para pejuang bangsa. Dan tak terasa ratusan tahun terjajah dengan tangan dan mulut diikat oleh penjajah. Kebebasan bergerak, berfikir dan membangun dibungkam oleh penjajah.

Sebuah pemikiran datang oleh para pemuda bangsa maka lahirlah gerakan-gerakan anak bangsa yang membangun moral dan pengetahuan untuk bersatu dengan intelektual bisa bergerak serentak supaya bisa lepas dari penjajahan. Abad 19 adalah awal dari munculnya pergerakan nasional Indonesia dengan munculnya berbagai faham-faham di Eropa, kemenangan Jepang atas Rusia, sehingga menyadarkan bangsa-bangsa Asia untuk bangkit dengan satu tekad rasa kebangsaan yang satu bulat untuk bisa lepas berdiri sendiri lepas dari keksasaan penjajah. Muncullah organisasi bangsa yang bertujuan menyatukan semangat nasionalisme bangsa untuk bangkit menjadi bangsa yang berbudaya dan mampu besar menjadi bangsa Indonesia. Lahirlah organisasi modern Budi Utomo oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo, dengan idenya supaya anak bangsa bisa belajar memperoleh pendidikan yang sama sehingga mampu berpotensi untuk membangun bangsa. Dengan munculnya organisasi pendidikan ini mulai bangkitlah semangat anak bangsa untuk membangun dan bekerja keras demi kemajuan dan terbebas dari penjajahan. Dengan munculnya Budi Utomo semakin bermunculan organisasi-organisasi lain meramaikan semangat kebangsaan membangun Indonesia melepaskan diri dari belenggu penjajah. Sehingga mulailah babak baru bangsa Indonesia sehingga berikutnya dalam rentetan sejarah muncullah anak-anak bangsa yang gigih berjuang meneruskan semangat kebangsaan hingga Indonesia mencapai kemerdekaan.

Kini kita telah jauh merdeka, sudah banyak darah dan air mata jatuh di jagat Indonesia baik sebagai pahlawan yang dilupakan orang maupun sebagai pecundang. Hari demi hari kita semakin maju dari era Soekarno sebagai anak bangsa pertama yang meraih kesuksesan membangun bangsa. Di susul oleh Soeharto yang meneruskan keberadaan Indonesia di mata dunia. Era Soekarno, era dimana bangsa masih mencari jati dirinya untuk bersatu membesarkan bangsa. Dengan pola pikir Soekarno yang tajam menjadi patokan setiap anak bangsa sampai 2 sampai 3 generasi menusuk paham nasionalisnya sebagai orang yang kuat mendidik anak bangsa dalam sektor paham yang susah dihilangkan hingga sekarang. Masa Soeharto dimana masyarakat dan bangsa ini semakin besar. Membangun dan mencari jati dirinya untuk bangkit dalam semua bidang sehingga munculnya kemajuan dalam segala bidang. Dari kemajuan pembangunan infrasturktur sampai kemajuan pola pikir dalam pendidikan. Sampai saat rakyat menjadi pintar dan tidak mau berfikir otoriter, kepingin bebas beraspirasi dan memunculkan pendapatnya sendiri sebagai ide dan kemajuan. Muncullah revolusi dengan istilah reformis (reformasi) istilah kerennya rentetan forum koalisi. Era Habibi dimana rakyat supaya kuat dalam teknologi sehingga tidak sadar rakyatnya banyak yang memakai empat mata alias berkacamata menyaksikan gagalnya kesadaran masyarakat menerima teknologi. Muncullah sang Kiyai Gus Dur yang sekarang dijadikan wali ke-10 oleh umat Islam. Beliau melahirkan semangat kebangsaan lagi, bergerak walau tertatih melatih anak bangsa untuk kuat dan tidak mudah putus asa dan harus mampu bertahan dalam setiap kondisi. Dengan kenyataan yang membingungkan sehingga (katanya) rakyat stress, susah menentukan arah karena salah urat dari awalnya. Muncul Kartini Indonesia Ibu Megawati memimpin bangsa dengan mengangkat roknya menyingsingkan lengan baju meneruskan dan menyadarkan anak bangsa bahwa Negara ini sudah besar, luruskan kembali barisan Soekarno sebagai anak-anak yang kuat menyongsong kemajuan bangsa. Sekarang era SBY berjalan dalam kubangan lumpur Lapindo dan kubangan Mafia Hukum. Berjalan dalam dua jalur yang berlawanan antara pendekatan ekonomi dan pendekatan rakyat. Memajukan Negara dan memajukan rakyat. Akhirnya bencana yang datang silih berganti seolah tak ada ujung. Semua berputar-putar seputar korupsi dan korupsi entah kapan berakhir.

Melihat fakta dalam hitungan waktu kita telah mampu membaca lewat nalar kita bahwa semua akan kembali pada tujuan bangsa ini. Mau dibawa kemana bangsa ini nantinya adalah berangkat dari kebijakan-kebijakan warna pada tataran anak bangsa yang sedang memimpin di sana. Semua sudah merasakan wacana dari kemajuan ilmu dan pendidikan. Entah terasa atau tidak kita sudah bisa membaca, menulis, mengkritik, berorasi, diplomasi dan sebagainya. Dari manakah itu semua adalah dari tekad kita dari bangsa yang dijajah menjadi bangsa yang berbudaya kembali. Dengan semangat nasionalis dan keagamaan anak-anak bangsa sudah bisa mengartikan dan membaca setiap gerakan pembangunan, pembangunan fisik dan pembangunan politik dan moral. Mampukah setelah kita memiliki kemajuan dalam kecerdasan anak bangsa kita lebih berbudaya, lebih bermoral dan lebih maju dalam kecerdasan dan mufakat??? Jawabnya adalah pada diri pribadi masing-masing. Mampukah kita menjadi pribadi yang mampu memikirkan Negara ini ke arah kelangsungan hidup ataukah kita tidak berdaya lagi menjadi figur atau orang yang sudah mengenyam bangku sekolah, merasakan mengigit bangku dan meja, makan kapur dan yang lainnya di sekolah. Sehingga besar ada yang jadi Insinyur, Doktor, Hakim, Pengacara, Anggota Dewan bahkan menjadi Presiden.

Bertahankah mereka menjadi jatidiri mereka yang sudah dibesarkan oleh bangku sekolah. Ataukah akan tergeser rasa dan karsa serta karya mereka oleh ambisi, kepentingan, organisasi, dan semua yang berbau kekuasaan. Sampai kapan ini akan berakhir itulah wacana anak bangsa Indonesia yang lamban dalam mengolah masuknya teknologi karena lemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dan hutang yang semakin menumpuk entah kapan akan lunas. Kita selalu berdoa dan berdoa semoga bangsa ini tidak melupakan semangat pendidikan untuk bisa bangkit menjadi bangsa yang maju dan modern serta makmur masyarakatnya. Marilah kita isi semangat nasionalis kita untuk bangkit menjadi bangsa yang humanis sehingga rakyat dan masyarakat tentram bisa mencari nafkah dengan tenang dan nyaman.

Penulis

Muhshonu Rohman, ST
Pengajar SMK Ma’arif 1 Kroya - Cilacap
ghostnaruto33@yahoo.com

Jika menurut sobat artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

0 komentar:

Beri Komentar

 
back to top