Friday, April 22, 2011

JALAN MENUJU AKHERAT

Sudah genap manusia menikmati hidup : kekayaan, kejayaan, kebanggaan, keharmonisan, keduniawian. Semua telah di alami dengan nyaman tidak pernah ada sesuatu halangan yang berarti dalam mencapai semua tujuan hidup. Ibaratkan tanaman tidak pernah terkena hama yang mematikan karena kesempatan iklim yang membuatnya tetap subur hingga menikmati kasil dari panennya. Tatkala semuanya berduka, menangis dan tertidur. Ada dan tiada telah mengarungi bahtera nikmatMu yang tiada tara. Tidak pernah pula terfikir bahwa semua akan berubah dengan berjalannya kehendakNya, yang muda melupakan yang tua, yang tua dilecehkan dan dihina oleh yang muda. Semua saling beragumen ingin menjadi yang terbaik dan benar menurut pandangan semua orang. Nilai sebuah imajinasi hidup dituangkan dengan analisa publik, bahwa yang kuat akan semakin kuat sedangkan yang lemah selalu jadi bahan hinaan dan cemooh. Bila manusia ingin menjadi yang terbaik bukan melalui jalan menemukan kelemahan orang lain. Kelemahan untuk dikhianati dan dianiaya, dihina martabat dan harga dirinya. Tetapi menemukan kenikmatan bersama adalah menjadikan orang lain manusia yang mempunyai arti di mata manusia yang lainnya.

Beras yang telah dimasak hendaklah langsung ditelan menjadi sarapan pagi yang nikmat, tapi nasi yang telah menjadi bubur bukanlah makanan yang siap dinikmati oleh semua orang. Lawan katanya malam adalah siang dan lawan katanya hidup adalah kematian. Namun jarang setiap orang akan menyadarinya, bahwa nilai sebuah kebaikan bukan diukur oleh kepandaian dan kepiawaian dalam mengolah kata, tapi nilai kebaikan akan selalu terpancar oleh jiwa yang sama antara hati dan bibir. Kesamaan ini dikembangkan oleh sebuah batasan yang selalu diabaikan. Batasan antara sesama makhluk, kalau kita semua makhluk ciptaanNya yang sederajat, tanpa embel-embel nilai keduniawian. Tanpa aktribut yang melekat di badan. Bahwa citra dari akal budi kita tertanam dalam sepak terjang kita berbicara dan memberikan sesuatu yang menyejukkan untuk di nikmati semua saja. Terlebih dari itu bahwa siapapun yang akan menilai dirinya selalu akan dihargai dikarenakan kita hanyalah manusia biasa yang tak pernah lepas dari dosa.
Berbeda sekali jikalau kita berfikir saat menjadi yang dibutuhkan, kita akan dihormati dan dihargai dengan baik tanpa sebuah tendensi kesalahan. Semua yang melekat di badan dan omongan selalu benar. Dan menjadi kesayangan ibarat daun dan tangkainya, ibarat susu dan sapi dan ibarat lem dan kertas. Inilah sebuah penilaian yang mengesampingkan bahwa kepribadian yang bagaimanakah yang dimiliki dari teman, sahabat dan saudara kita. Jangan pernah menghitung apa yang telah kita lakukan dan jasakan bagimu dan semua orang, tapi menjadi manusia yang mampu menilai dari setiap apa yang dinyatakan bahwa tindakan kita adalah benar. Manusia yang terbaik bukanlah menjadi diri orang lain untuk menilai orang lain. Manusia yang terbaik haruslah berangkat dari penilaian dirinya sendiri, sudah pantaskah menjadi seorang manusia yang membawa diri dan keluarga menuju sebuah kedewasaan hidup. Bahwa apa yang telah dirasakan bukan nikmat namun sebuah pertanyaan dari Tuhan. Sampai kemana akan menjadi kesiapannya menuju jalan akheratMu. 

Mumpung masih menikmati semua yang telah dirasakan dan dinikmati, bersama menjadi orang yang mampu menerjemahkan rahmat menjadi jalanMu. Bila nyawa telah lepas dari badan hanya dosa yang tertinggal. Apa akan menilai semua kebaikan dan amal kita setelahnya. Yang ada semua adalah urusan yang Maha Kuasa Hidup. Sebatas mana manusia akan memberi laporan yang tepat kepada Tuhannya saat disidang?. Tidak ada sesuatupun yang bisa ditutupi untuk melepaskan tanggungjawab sebagai insan yang beradab. Tidak akan pernah bisa melarikan diri kemanapun semua dosa yang ada di badan. Ibarat toko telah menerima untung yang besar sehingga melupakan sejarah bagaimana pengunjung yang datang dan menikmati dagangannya. Yang terfikir adalah siapa yang menjual dan siapa yang membeli, selebihnya itu adalah hukum yang sah dalam jual beli.

Rasanya senang apabila melihat sesama insan bisa saling beradu otot dan otak untuk saling menjatuhkan. Namun di sisi lain, apakah tersadar kalau sebuah perbedaan yang diteruskan dengan pertikaian akan menyebabkan gugurnya amaliah kita, walaupun segunung amal yang dimiliki karena ibadah, keyakinan dan kedekatannya dengan Tuhan. Hanya demi selembar dan setumpuk dunia yang berupa nilai fulus. Setiap yang salah dan dipersalahkan harus disingkirkan dan di buang. Seberapa besarkah kesalahan insan dibanding dengan pengampunan Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi jika buah kedondong halus dalamnya. Yang ada adalah buah kedondong licin luarnya namun busuk dan berduri dalamnya. Dinikmati luarnya nikmat, alangkah nikmatnya lagi menikmati dalamnya. Digigit-gigit dengan menarik-narik uratnya akan terasa menantang dan menggairahkan sehingga melupakan mau di bawa kemana sampah durinya. Dibuang sayang tidak dibuang menyiksa.

Seperti menanti sebuah penyakit wudun, sekarang sudah lega menyaksikan pecahnya penyakit dari dalam kulit. Bersenang-senanglah menjadi manusia yang bijaksana. Seolah tiada luka dan dukamu. Tiada dosa dan kesalahanmu terhadap sesama insan. Tidur nyenyak dan makanpun terasa nikmat apabila penyakit yang datang sudah lepas dari badan. Namun perlulah disadari bahwa adanya penyakit yang menyiksa tubuh, justru memberikan peringatan kepada kita jikalau Tuhan masih menyisakan rasa sayang kepada makhluknya. Peringatan Tuhan seringlah datang secara terlambat, sampai kapan akan membuahkan perubahan akhlak yang membedakan dia dengan kita. Yang membedakan kita dibanding ke aliman orang lain. Tatkala tersadar sudah sampailah kepada jalanMu menuju akherat.

Terbanglah menuju akherat saudaraku. Jiwa dan ragamu akan tertahan di dunia karena masih menyisakan luka terhadap perasaan sesama. Menyisakan luka terhadap orangtua kita, sehingga kita lupa akan bersujud di bawah kakinya. Selebihnya hanyalah sebuah pandangan bahwa di matamu orangtua adalah sebuah kebanggaan dunia dengan harta dan kekayaannya, namun tidak memandang bahwa setiap orang tua adalah surga yang tidak akan pernah ternilai dengan apapun. 

Hasbunallah wanikmal wakil nikmalmaula wanikmannasir, manusia hanya melahirkan anak yang juga sebuah titipan surga dan nikmat  bagi sesama dan dirinya. Jangan pernah menilai bahwa buah hati kita adalah fitnah yang harus dibuang demi surga kita di akherat. Sementara siapa yang akan menolong kita saat amal kita telah habis ditimbang antara berat dan kotornya. Cukup sudah manusia membesarkan perut dan tubuhnya untuk menghardik harga diri saudaramu. Karena yang ada adalah daging sendiri yang akan tersobek-sobek di jalan menuju akheratMU. 

Astaghfirullahal adzim, semua akan memiliki hidayah saat semua tertidur dan untuk semua manusia yang bernilai baik dan jelek akan mendapatkan sebuah anugrah yang sama dihadapanNya. Yang membedakan adalah lama dan tidaknya kelak mendiami sebuah wadah api di akherat. Sujudmu menghadapNya sama dengan pahala menjadikan saudaramu manusia yang dihargai orang lain.



Crowja Garichu

Jika menurut sobat artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

0 komentar:

Beri Komentar

 
back to top