Friday, April 15, 2011

REFRESHING HATI

Kalau diamati kehidupan manusia selalu berjalan siang dan malam penuh dengan ambisi dan manipulasi. Banyak manusia menelantarkan saudara, teman, sahabat, atau bahkan yang sangat dekat dengan hatinya. Semua MERASA tidak sadar bahkan kehidupannya dilingkupi dengan semua kesenangan dan keberkahan hidup, bahkan dia yakin bahwa Tuhan telah memberikan apa yang semua telah diberikan karena nasib baiknya. Semua berobsesi bahwa saat menjalankan sebuah keyakinan haruslah ditopang  dengan keberhasilan menjaga semua, menjaga sistem dan menjaga ambisi dan kelanggengan kekuasaan belaka. Berangkat dari sinilah setiap manusia yang merasa dirinya ALIM dihadapan Allah dan dihadapan semua manusia yang menghormatinya.

Kalau dihayati dan difikirkan dengan jeli, "banyak orang yang tidak suka terhadap diri kita dibanding dengan keyakinan dan kesuksesan kita di mata semua orang dan bercerminlah pada diri sendiri kalau SEMUA orang menilai kita dan bukan hanya satu dua orang yang TIDAK SUKA terhadap ambisi dan kebijakkan kita".  
Hanya manusia yang merasa tawadlu' terhadap nikmat Allah yang tetap menjaga keharmonisan semua hal. Keharmonisan dalam arti memberikan RASA nyaman terhadap semua orang bukannya memberikan sebuah PILIHAN akan semua aturan yang harus dilaksanakan. Karena aturan dibuat sendiri dan dilakukan penekanan terhadap kepentingan sendiri. Inilah mudhorotnya keadaan yang akan membawa diri kita semakin SOMBONG dihadapan Allah. 

Ibarat orang mengaji, ayat yang kita lantunkan sepenuhnya untuk mencari keridloan Allah SWT bukan sebuah RIYA yang akan melunturkan suara kita di akherat. Nilai amaliah manusia memberikan cermin pada hati, namun juga akan menjadikan semakin larutnya terhadap penyakit hati manusia. Luruskan shofmu tetapi jangan menyingkirkan shof orang laen saat orang tersebut berbeda DERAJAT dengan kita. Ketahuilah apabila sebuah shof lurus dan menyatu hanya BENTUK manusia yang sama kedudukannya yang mendapatkan kemuliaan saat bersama-sama melaksakan SHOLAT BERJAMAAH. Sebuah wawasan yang selalu dilupakan banyak orang, bahkan kita sendiri yang melontarkan HUKUM Allah sangat melupakannya, karena faktor TINGGINYA ilmu kita dibanding orang laen. Bahwa saat di akherat kelak tidak pernah berfikir bahwa amal ibadah kita yang akan menolongnya BUKAN kesuksesan kita di dunia dan segala bentuk serta macam aktribut yang ada di jasad saat di DUNIA.

Saudara hendaklah sadar, bahwa semua berangkat dari Allah dan akan dikembalikan kepada hak Allah. Dan semua orang yang merampas hak hidup Allah terhadap makhluknya, akan menerima sebuah murka Allah terhadap perjalanan ke depannya di dunia dan akherat. Berfikir demikian sering direnungkan dan terfikir oleh HATI, namun tidak lebih hanya kekuatan hati yang bisa mencernanya selebihnya rasa EGOIS merasa lebih dari segalanya yang menutup telinga dan mengunci BIBIR kita untuk berbicara MAAF dan BAIK dihadapan dirinya. Inilah nilai amaliah kita yang selalu menjadi momok di akherat kelak, menjadi DURI saat anda akan memasuki sebuah alam yang namanya SURGA AKHERAT.

Saudara sebangsa dan setanah air, kelak anda akan menemukan bahwa hidup tidaklah hanya terlena dengan semua yang telah dimiliki dan semua yang sedang direngkuh dan dinikmati, tetapi lupakan hal itu kembalilah kepada jalan Allah bahwa kita hanyalah makhluk lemah dihadapanNya. Dan tidak ada seujung kuku keangkuhan kita, bahwa apaseh yang membuat kita bahagia? Hanya sebuah pengakuan dihadapanNya bahwa kita ORANG BERIMAN dan BERAMAL SHOLEH yang menjadikan hati ini bahagia. Sungguh IRONIS menyaksikan sebuah dilema yang menunjukkan wajah yang jauh dari rahmatNya. Tidak ada manusia yang sempurna, "namun alangkah baeknya apabila kita menyempurnakan SATU saja kelebihan kita yang akan dibawa MATI menghadap Allah yaitu KESALEHAN HATI"

Sudah berhargakah kita dihadapan semua orang, sudahkah merasa memberikan apa yang semua orang butuhkan, sudah merasa bersihkan terhadap nikmat Allah yang telah diberikan dengan rasa syukur sebagai bukti terima kasih kita, sudahkah menjadikan diri kita panutan dari semua orang? Jangan sekali-kali berfikir ataupun merasa demikian terhadap HATI kita, yang TERBAIK lupakan hal semacam itu, kembalilah pada nilai DZIKRULLAH, Nilai yang akan membawa kesempurnaan jiwa dan hati kita menghadap Allah KAPANPUN dan DIMANAPUN nyawa kita akan meninggalkan jasad kita. Selebihnya memberi KEBAHAGIAAN setiap saat kepada sesama manusia walaupun sekecil apapun sebagai perantara bahwa kita hanya diperantarakan Allah menemui takdir dan seleksi alam terhadap AMANAH yang ada di badan dan sanubari kita. Astaghfirullahal 'adzim, semoga kita menjadi manusia yang baek di mata Allah dan menjadi manusia yang sama kedudukannya di mata semua orang, tidak melebih-lebihkan dan melupakan nikmat Allah yang telah disandang oleh jasad kita. Karena semua yang kita PEROLEH adalah dari perantaraan dan pertolongan ORANG LAIN dan jasa semua orang sehingga badan dan jasad HARUM seharum minyak wanginya.

Sujud adalah gambaran sebuah komunikasi yang terbaik antara hamba dan Allah SWT, alim adalah gambaran nikmat kita yang selalu kita syukuri dalam kondisi apapun, kamil adalah gambaran manusia yang menjadikan syukurnya kenyataan amal di akherat kelak dengan memberikan nikmat kita kepada sesama, sholeh adalah gambaran jiwa dan hati yang tawadlu menjadi manusia yang lemah dan selalu berdiri sejajar dan meluruskan shof, ma'rifat adalah gambaran hati yang sudah tertutup dengan gejolak dunia dan hanya Allahlah tempat kembali.

Berdoalah terus untuk diri dan orang Islam semua, semoga amal ibadah kita tetap bersarang pada tubuh dan tidak hangus termakan ambisi dan riya kita. "Sepandai tupai melompat akan jatuh juga ke tanah". Istilahnya bahwa "Sealim apapun dan selurus shof yang kita miliki akan tercoreng dengan arang setiap sudut tubuh kita, bila akhlak yang menjalankan hukum Allah terhadap sesama dan bukanlah hukum yang meluruskan shof dan akhlak kita"  

Dengan apakah itu semua akan terwujud? "Dengan memberikan nikmat-nikmat kita kepada orang laen untuk duduk bersama merasakan nikmat yang telah kita rasakan". 

Akhirnya marilah kita kembali kepada jalan agama Allah, yaitu menjadikan diri kita seorang hamba yang ikhlas atas semua nikmat dan kenikmatan yang diberikan sebagai amanah dari Allah SWT. Insyaallah dari pintu manapun pintu surga akan terbuka untuk kita dan kita akan di golongkan sebagai orang-orang yang menegakkan tali agama Allah. Amien yaa robbal 'alamiin.
Wallahua'alam bishowab



penulis :
Crowja Garichu
ghostnaruto@gmail.com

Jika menurut sobat artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

0 komentar:

Beri Komentar

 
back to top